oleh

Presiden Hanya Ulur Waktu

JAKARTA – Pengungkapan Kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan makin tak jelas. Terlebih pasca penyampaian hasil kerja dari Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) bentukan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, beberapa waktu lalu yang tak membuahkan hasil maksimal.

Staf bidang Komunikasi dan Media Amnesty International Indonesia, Haeril Halim mengatakan, tragedi penyiraman penyidik senior KPK Novel Baswedan telah berusia dua tahun lebih atau tepatnya 830 hari. Meski demikian, kasusnya masih gelap dan pelakunya pun tak kunjung tertangkap.

Baca Juga:  Modus Bansos, Pengusaha Telur Ditipu Salesnya Sendiri Hingga Rp325 Juta

TGPF bentukan Kapolri tak bisa berbuat banyak. Tapi yang terjadi justru menimbulkan polemik baru. TGPF malah membuat pernyataan yang menyudutkan Novel dengan tuduhan tidak etis.

“Kami sayangkan TGPF yang sudah gagal, tapi malah menyudutkan korban dengan tuduhan tak etis,” kata Haeril saat dikonfirmasi Fajar Indonesia Network, Minggu (21/7).

Tak hanya itu, yang lebih mengherankan, TGPF juga meminta Kapolri untuk membentuk tim baru yang lebih spesifik. Ini jelas menunjukan kehadiran TGPF bisa berbuat apa-apa dalam mengungkap kasus Novel.

Baca Juga:  Uji Coba Sekolah Tatap Muka di Ciamis Berlangsung Dua Minggu

“Sehingga Presiden Jokowi pun mendesak Kapolri untuk segera menuntaskan kasus Novel. Bahkan Presiden meminta tiga bulan untuk menyelesaikannya oleh tim yang baru bentukan Kapolri,” katanya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga