“Sedangkan, produk olahan berupa minuman dan lainnya tidak bisa masuk ke Tiongkok. Padahal nilainya sangat tinggi,” kata Enggar.
Mendag juga mengajak pemerintah Tiongkok untuk mengatasi penyelundupan sarang burung walet yang selama ini terjadi melalui Malaysia, Vietnam dan Hongkong.
Dalam kunjungan kali ini, Enggar juga mengajak para importir makanan minuman China untuk berinvestasi di Indonesia. Hasil produksinya diekspor kembali ke Tiongkok, negara-negara ASEAN, dan Australia.
Baca Juga:Buka Peluang Kerja Sama dengan EropaAllegri dan Ronaldo, Paulo Dybala Diincar PSG
“Hal ini juga saya sampaikan ke Menteri Tiongkok dan disambut dengan positif. Disampaikan ini langkah positif karena akan memudahan proses verifikasi dan perizinan di Tiongkok,” imbuh Mendag.
Kunjungan Mendag kali ini berbarengan dengan penyelenggaraan seminar mengenai sarang burung walet yang diikuti oleh pengusaha baik dari RRT, Malaysia, Vietnam, dan Hongkong.
Kunjungan Mendag untuk melakukan lobi tersebut dinilai positif oleh pengamat. Rusli Abdullah dari Indef menyebutkan pendekatan perlu dilakukan agar berbagai kendala ekspor dapat diatasi.
“Langkah Mendag positif. Tinggal Mendag harus bisa menegaskan bahwa Tiongkok tak perlu memberlakukan terlalu banyak persyaratan. Cukup bahwa buah kita tidak mengganggu kesehatan, bukan hasil rekayasa genetika dan berkelanjutan, tak perlu syarat yang macam-macam lagi,” katanya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pertimbangan sosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan sarang burung walet Indonesia semakin baik dalam kualitas dan mutu. Namun, saat ini tinggal mempercepat masalah intern agar ekspor sarang burung walet meningkat.
Dia menyebutkan, dulu memang kualitas sarang burung walet Indonesia buruk. Namun, masalah itu kini sudah teratasi.
“Sekarang mungkin ditagih lagi juga karena kebutuhan mereka akan burung walet banyak sekali. RRT banyak impor,” imbuhnya.
Baca Juga:Kesempatan Timnas Berprestasi Tingkat DuniaMadrid Kalah Dilaga Pertama
Dia pun optimis pemerintah bisa mendapat USD1 miliar dalam satu tahun dengan menggejot ekspor tiga komoditas tersebut.
Total perdagangan Indonesia-RRT periode 2018 tercatat sebesar USD72,67 miliar atau naik 23,48% dari total perdagangan 2017 yang sebesar USD58,84 miliar. Adapun total perdagangan Indonesia-Tiongkok pada periode Januari-April 2019 telah mencapai USD22,4 miliar.
Seiring peningkatan nilai perdagangan, defisit yang dibukukan Indonesia juga semakin melebar. Defisit perdagangan mencapai USD18,4miliar, naik dibandingkan defisit tahun sebelumnya sebesar USD12,68 miliar. (fin/yan)
