Hasby berharap, kejadian yang dialami Nabila tidak terjadi dan dialami oleh anak-anak lainnya.
“Tadi (kemarin, red) kami ajak Nabila ke toko sepatu dan membelikan sepatu untuk dia. Mudah-mudahan sepatu itu jadi motivasi untuk Nabila dan bisa menjadi siswa berprestasi,” harapnya.
Berdasarkan penuturan Nenek Ira, ibu Nabila saat ini berada di Kalimantan dan bapaknya tidak tahu berada di mana. Kedua orang tuanya tidak pernah datang menemui mereka.
Baca Juga:BPJS Kesehatan Gelontorkan 11 TBupati : Siapapun Pemimpinnya, Kebersamaan Harus Tetap Terjaga
“Biasanya pulang sekolah Nabila suka cari barang rongsokan keliling kampung atau sekitar rumah selama dua jam. Nanti sore dilanjutkan lagi. Barang-barang rongsokan yang didapat biasanya sampai dua karung, dan setiap Sabtu saya jual, kadang dapat Rp 25 ribu atau Rp 30 ribu,” ungkap Ira.
Nabila saat ini tercatat sebagai siswa kelas 6 di SDN 1 Cibodas. Untuk kebutuhan sehari-hari, Nabila harus mencari barang rongsokan untuk dijual. Terkadang, hasil penjualan barang-barang bekas itu untuk biaya berobat kakek Cece yang sakit pada saluran kencing sejak enam bulan terakhir dan nenek Ira yang sakit jantung.
Selama ini, keluarga Nabila sama sekali belum tersentuh bantuan sosial dari pemerintah, baik itu Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan juga Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. (drx)
