Mata Novel Menangis, Jenderal itu Masih Melenggang Pak!

Mata Novel Menangis, Jenderal itu Masih Melenggang Pak!
FAJAR INDONESIA NETWORK
TUNTUT KEADILAN: Penyedik senior KPK Novel Bawesdan mengadakan aksi diam selama 700 detik di halaman kantor KPK.
0 Komentar

Banner tersebut menampilkan gambar wajah Novel Baswedan. Mengenakan kaca mata. Namun ada yang berbeda dari gambar mata Novel. Mata kirinya dilukis berwarna merah. Persis di tempat cipratan air keras kala insiden penyiraman mendarat. Telapak tangannya menutup mulut. Latar berwarna kuning kecoklatan pun menambah aksen muram gambar tersebut.

Di tengahnya, ada sebuah layar berukuran 29 inci yang memuat hitungan mundur selama 700 detik. “Kenyataan ini sangat tragis, di tengah janji-janji memberantas korupsi. Janji hanya janji. Tepat 700 hari ini kami meminta segenap bangsa diam selama 700 detik,” kata Ketua Wadah Pegawai (KPK), Yudi Purnomo.

Aksi pun dimulai. Kesunyian lantas terasa. Begitu sepi. Sampai yang terdengar hanya lah suara kendaraan bermotor yang melintas di depan Kantor KPK. Light stick tersebut menjadi satu-satunya alat penerangan. Tepat pukul 19.11 WIB, aksi diam berhenti.

Baca Juga:Wazawazi Dorong Milenial Ekonomi ProduktifTenaga Baru, 24 Penyelidik jadi Penyidik

“Berbagai suara sudah dilantunkan, berbagai aksi sudah dilakukan. Protes dan aksi sudah digelar di seluruh penjuru nusantara. Akhirnya tiba masanya, kami menyuarakan suara kalbu kami. Kalimat yang hanya bisa terdengar saat diam,” ucap Yudi.

Aksi tersebut sekilas terlihat seperti kegiatan mengheningkan cipta. Biasanya, mengheningkan cipta memakan waktu 20-30 detik. Ini lebih lama. Mengheningkan cipta kerap dilakukan untuk mengenang jasa para pahlawan. Ya, Novel diperlakukan bak pahlawan. Pejuang garda terdepan antikorupsi nusantara.

Namun, sang sohibul bait, Novel Baswedan tidak ada di lokasi. Yudi mengatakan, beliau tengah menjalani kontrol rutin di Singapura terkait matanya. Kabar baiknya, kondisi mata kiri Novel kian membaik. Kendati harus tetap menjalani terapi obat dari dokter. Syukur lah.

“Ini berlalu tanpa tindakan apa-apa. Hingga 700 hari ini pelaku masih bebas. Sementara negara beserta seluruh alat negara dibuat tidak berdaya. Bahkan ini menjadi inspirasi pelaku lain. Suara kebenaraan dianggap hanya angin lalu. Hari ini kami menunggu realisasi pimpinan negeri ini untuk mengungkap pelaku penyerangan,” sambung Yudi.

“Diam adalah bahasa terakhir saat lidah kita membeku menyuarakan keadilan,” tutup Yudi mengakhiri aksi.

Menyaksikan aksi tersebut, tiba-tiba lantunan tembang Sebelah Mata karya Efek Rumah Kaca terlintas di benak penulis. “Tapi sebelah mataku, yang lain menyadari. Gelap adalah teman setia, dari waktu-waktu yang hilang.”

0 Komentar