Itulah sebabnya Pangeran Mohammad bin Salman agresif. Ia putuskan cepat. Investasi kilang di Pakistan. Di Tiongkok. Dan mestinya di Indonesia. Rasanya ia juga lagi merayu India. Karena itu Pangeran mampir ke India.
Padahal India lagi sewot berat dengan Pakistan. Sewot turunan. Sejak pemberontak Kashmir meledakkan bom. Minggu lalu. Menewaskan hampir 30 milisi pro India.
India menuduh Pakistan di balik bom itu. Pakistan menyangkal berat. Tapi India mau pemilu. Bulan depan. Bom tadi bisa jadi jualan politik yang laris. Mengibarkan sentimen anti Pakistan sangat digemari suara fanatik Hindu.
Baca Juga:Kekerasan pada Jurnalis, LBH Pers Minta Polisi Turun TanganPengurus ASKAB Kabupaten Bandung Resmi Dikukuhkan
Saya tentu tidak tahu mengapa Pangeran tidak jadi mampir ke Jakarta. Pun seandainya tahu, untuk apa ditulis di sini. Dalam suasana seperti ini.
Pangeran memang lagi bikin ayunan menarik. Ia mau bekerja sama dengan Tiongkok. Dalam skala yang begitu besarnya. Padahal dunia tahu: Tiongkok sangat akrab dengan Iran. Bahkan lihat ini: seminggu sebelum kedatangannya ke Beijing, Presiden Xi Jinping menerima kunjungan pemimpin Iran.
Arab Saudi juga sahabat terbaik Amerika di Timur Tengah. Tiongkok lagi dijadikan ‘tersangka’ di banyak hal. Tapi Pangeran tetap mengayunkan langkah besar ke Tiongkok.
Tak ragu-ragu. Arab Saudi menjadi pendukung program One Belt One Roadnya Tiongkok. Seperti juga Iran dan Pakistan. Itu karena Pangeran juga punya program besar ke depan: Saudi 2030. Yang tidak lagi bersandar ke minyak bumi.
Pangeran MBS lagi berkiprah. Ia bikin jalur sutra misterius baru: Riyadh, Lahore, Beijing, Teheran. Jakarta di luarnya. (dahlan iskan)
