Hasil Tabungan 20 Tahun Hilang dalam Semalam

Beruntung, Mapinah langsung dibopong lari Kodri. Meski sempat terjatuh, tak ada luka berarti, hanya lecet.Sedangkan empat pengunjung warungnya, langsung berhamburan menuju ke kamarnya. Beberapa membangunkan istri dan anaknya. Bahkan, beberapa barang pengunjung masih tertinggal di penginapan.

Malam kemaren emak langsung diantar ke rumah anak emak. Sampe sore di sana. Emak nangis aja, khawatir dagangan sama penginapan, kata Pinah sambil menyeka air matanya.

Sesampainya di rumah anaknya, banyak pertanyaan yang diajukan. Tapi tak satu pun dijawab anaknya. Pinah hanya diminta istirahat dan tidur di kamar. Mungkin, anaknya khawatir jika Pinah malah nangis.

Pinah melanjutkan ceritanya, ia hampir lupa, jika ada tamu di penginapannya. Bahkan, tamunya belum bayar biaya penginapannya. Tapi emak ikhlas. Emak juga dapet kabar kalau semuanya selamet. Alhamdulillah, tambahnya.

Hari mulai sore, Pinah juga terlihat keletihan. Ia mulai duduk di bawah pohon sambil menyeka keringatnya. Matanya menatap jauh ke laut. Deburan ombak yang kencang tidak membuatnya takut. Ia hanya berharap jika semua ini hanya mimpi.

Sementara di Tangerang, Lurah Serua Kota Tangsel Cecep Iswandi masih sibuk memperhatikan layar smartphone-nya. Sesekali pria yang menjabat Lurah Serua, Ciputat, Kota Tangsel ini menjawab telepon. Suaranya sedikit membentak, seperti meminta kejelasan dari data yang diteleponnya. Para keluarga korban yang mengerumuni kaget mendengarnya. Mereka kembali duduk setelah mengetahui jasad yang ditemukan bukan dari warga Serua. Anaknya sudah ketemu belum, saya sudah kirimkan ciri-cirinya? tanyanya di ujung telepon. Matanya sudah memerah. Sejak Minggu (23/12) pagi, ia sudah tidak tidur usai bencana Tsunami di Anyer.Minggu kemarin, ia baru mendapat info 16 warganya menjadi korban.

Ada delapan warga Serua meninggal dunia. Tujuh orang selamat dengan kondisi luka berat. Sementara salah satu warganya yang bernama Adinda Putri Anisa (13) masih belum ditemukan. Gadis cilik yang masih menginjak bangku SMP ini dikabarkan hilang saat berwisata bersama rombongan keluarganya.

Cecep dengan sigap menelepon para relawan Kota Tangsel satu persatu. Saat mereka menemukan jasad, para relawan kembali menelepon Cecep mengonfirmasi kembali ciri-ciri sang anak tersebut. Sudah saya kirim fotonya lewat Whatsapp, coba cek lagi mas, apa ciri-cirinya di foto yang dikirim seperti anak itu, pintanya. Orang yang di ujung telepon lalu mengiyakan dan menjawab nihil. Bukan pak, kita cari lagi, ujar seseroang yang ditunjuk sebagai koordinator relawan.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan