oleh

Menulis: Bakat atau Keterampilan?

Menulis jika dilakukan secara benar, tak ada bedanya dengan kegiatan bercakap-cakap (Laurence Sterne – novelis).

Bambang Soegiharto
Guru SMP Negeri 51 Bandung

MENULIS merupakan sebuah kegiatan memadu kata yang kemudian menjadi kalimat-kalimat penyusun paragraf. Semakin banyak kata yang tertera, semakin banyak pula kalimat yang dihasilkan. Entah itu menulis artikel, rangkuman, esay, atau bahkan kerangan berupa puisi, cerpen, cerbung, dan Novel. Tanpa sadar, kata demi kata, kalimat demi kalimat, hingga paragraf demi paragraf yang terbentuk telah menjadi sebuah maha karya.

Menulis itu sulit, begitu kata sebagian orang. Menulis atau menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan mungkin menjadi hal yang cukup memusingkan. Banyak orang yang masih beranggapan bahwa untuk menjadi penulis yang hebat dibutuhkan bakat atau bawaan dari lahir. Orang bilang bahwa untuk bisa “menulis” itu perlu bakat, yakni bakat menulis. Dengan bakat itu maka seseorang bisa terlihat piawai saat menulis, sehingga tulisannya pun terkesan cerdas, artistik, dan bernas.

Benarkah keyakinan tersebut? Apakah untuk jadi penulis memang perlu bakat? Atau ada alasan lain yang lebih rasional? Keterampilan misalnya (hal yang bisa dilatih)?

Kalau menulis dikatakan sebagai bakat bawaan dari lahir, bukankah terdengar mustahil jika orang mempunyai keterampilan menulis begitu dilahirkan? Sebenarnya, anggapan itu kurang tepat. Menulis itu bukan bakat tapi sebuah keterampilan yang bisa dipelajari dan dilatih oleh semua orang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga