Kader Membelot, Partainya SBY Pecah

Saat ditanya mengenai alasan kuat banyaknya kader PD membelot atau pindah ke partailain, baik itu dalam konteks Pilpres dan Pileg 2019 diakibatkan karena segala kebijakan yang dikeluarkan oleh DPP dan DPD tidak mengakomodir para kader arus utama dan bawah atau akar rumput, Irfan Suryanegara membantah keras hal tersebut.

”Tidak ah, segala kebijakan yang dikeluarkan DPP atau DPD itu cukup akomodatif kok. Kalau mantan kader (membuka rahasia PD) jangan didengar karena sudah memiliki tujuang-tujuan lain dan tertentu, yang jelas kami solid sampai saat ini,” katanya.

Soliditas ini terang Irfan, terwujud di Pemilihan Legislatif 2019 dimana pihaknya berkomitemen untuk memenangkan kursi di DPRD Jabar, karena erat kaitannya dengan Pilgub Jabar 2023.

”Dan kami sangat optimistis di Pileg 2019 ini kami akan menang, karena kita solid dan berkomitmen. Ditambah dengan kader PD yang sedikit terjerat kasus korupsi dibandingkan partai lain. Jadi, Kami yakin menangkan Pileg dan Pilpres 2019,” terangnya.

Dirinya pun membantah soal alasan kader yang membelot karena AHY tak jadi kontestan di Pilpres 2019. Hal itu hanya alasan yang dicari-cari saja. Dikatakan dia, DPP sudah jelas mendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dan kebijakan ini dipastikan akan diikuti oleh kader arus utama maupun bawah sampai ke akar rumput.

Isu itu sebut dia dihembuskan lantaran, kubu PS-SU belum banyak bergerak khususnya di daerah. Sehingga timbul persepsi publik bahwa baik PD maupun partai koalisi tidak solid hingga dikabarkan pecah dukungannya.

”Kita belum bergerak, karena di Gerindra saat ini belum ada kegiatan. Sehingga saat ini, kami fokus untuk Pileg 2019 terlebih dahulu,” ujarnya.

Adapun mengenai pertemuan Deddy Mizwar dengan Ma’ruf Amin ini ungkap Ifran, menurut pengakuan Deddy Mizwar hanya pertemuan antara guru dan murid saja. Tetapi tak dipungkiri apabila ada pembahasan permintaan dukungan oleh KH Ma’ruf Amin kepada Deddy Mizwar.

”Tetapi toh, itu kan hak politiknya Deddy Mizwar mau memilih mendukung pasangan Joko Widodo dengan Ma’ruf Amin atau Prabowo Subianto,” ungkapnya.

Meski demikian kata Irfan, DPD Partai Demokrat Jabar saat ini tinggal menunggu surat pengunduran diri dari Deddy Mizwar apabila akhirnya memilih untuk tidak taat terhadap kebijakan yang telah dikeluarkan DPP Partai Demokrat.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan