Tenggang berpikir Roni sangat singkat. Tak sampai satu detik. Dia berkesimpulan bahwa Ais tidak dipersenjatai bom.
Sebab, kaus Ais sedikit tersingkap dan tak menunjukkan adanya benda asing apa pun yang menempel. Roni juga sempat mencurigai celana yang dikenakan Ais sebagai tempat menyimpan bom. Namun, analisis itu gugur setelah menyambungkan logika celana jins ketat yang Ais pakai dengan bentuk bom yang diperkirakan akan menonjol. ”Kan kelihatan kalau menyimpan sesuatu di celana,” ucapnya.
Kedua tangan Roni pun langsung meraih tubuh Ais. Teriakan dari halaman mapolrestabes semakin riuh. Para anggota yang menyaksikan aksi nekat itu seolah-olah tak percaya. Ternyata, Roni berani menggendong Ais.
Baca Juga:PKS: Tuntutan FPB Salah AlamatBawaslu Masih Kaji Laporan Hasanah
Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Sudamiran menyebut aksi itu sungguh berani. ”Ngeri. Berani dia,” kata dia.
Mantan Kasubdit Tipikor Ditreskrimsus Polda Jatim itu menyebut kondisi saat itu genting. Tak keruan. Api yang menyala semakin besar.
Sudamiran sangsi bakal terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat Roni berusaha meraih Ais. ”Itu api besar dekat dengan mobil. Kalau menyambar, bakal seperti apa,” tuturnya.
Namun, Tuhan berkata lain. Roni menyatakan, ada keterikatan batin antara dirinya dan Ais. ”Saya nggak tahu gimana. Tapi, hati saya tergerak,” ungkapnya.
Setelah berhasil menyambar tubuh Ais di dekat pos penjagaan, Roni segera berlari ke barat. Polisi lain meminta Roni mengecek tubuh Ais, apakah ada bom yang menempel.
Prosedur clearance dilakukan. Analisis Roni tepat. Tidak ditemukan satu pun rangkaian bom di tubuh Ais.
Petugas lain lantas dengan sigap mengambil alih Ais dari tangan Roni. Ais dinaikkan ke atas brankar milik ambulans. Petugas membawanya ke RS Bhayangkara Polda Jatim untuk penanganan lebih lanjut. Saat itu Ais tergolek lemah sambil merintih.
Baca Juga:14 Negara Keluarkan Travel Advice ke RIKinerja ASN jadi Sorotan Dewan
Roni mengakui bahwa kesigapannya saat itu tak terlepas dari pengalamannya semasa berperang. Dia lima kali dikirim ke DI Aceh untuk menumpas GAM (Gerakan Aceh Merdeka) selama 2001–2005.
Mantan komandan Unit Resimen IV Gegana Korbrimob Polri tersebut sudah berkali-kali menghadapi bom. Karena itu, memorinya langsung memutar ke belakang saat menghadapi pengeboman kemarin.
