Ubah Jalan Gasibu Jadi Majapahit

Ubah Jalan Gasibu Jadi Majapahit
ACHMAD NUGRAHA/JABAR EKSPRES
HARMONI BUDAYA JAWA-SUNDA: Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (kedua kiri) didampingi Gubernur Jawa Timur Soekarwo (tengah) dan Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X (kedua kiri) usai meninjau papan Jalan Majapahit saat Harmoni Budaya Jawa-Sunda dan peresmian nama Jalan Majapahit, Jalan Hayam Wuruk serta Jalan Citraresmi di Jalan Diponegoro kemarin (11/5).
0 Komentar

Ke depannya Pemprov Jabar akan kembali melakukan pertemuan-pertemuan bersama para pemimpin dari Jawa Tengah dan Jawa Timur guna menentukan langkah-langkah berikutnya sebagai tindak lanjut rekonsiliasi budaya yang saat ini terjalin. Aher menilai, perlu adanya kerjasama pada beberapa bidang seperti pariwisata dan juga lainnya untuk mempererat hubungan antar budaya. Selain itu, sosialisasi juga perlu terus dilakukan kepada masyarakat.

“Kita akan terus berupaya untuk mengharmoniskan agar masyarakat menerima, kemudian jalan tersebut terdapat di tengah kota, tentu dipilih yang paling mungkin,” kata dia.

Menanggapi pengukuhan tersebut, Gubernur Jawa Timur, Soekarwo mengaku sangat mengapresiasi upaya Pemprov Jabar. Namun, substansi yang paling mendasar dari adanya peresmian Jalan Majapahit dan Jalan Hayam Wuruk adalah bagaimana memberikan sumbangan pemikiran yang besar karena budaya merupakan solusi terhadap berbagai konflik yang terjadi.

Baca Juga:Dispora Kurang Perhatikan OlahragaSempat Ada Guncangan Sebelum Erupsi

“Jadi semua dengan pendekatan budaya itu tidak ada luka kemudian, tidak ada salah benar,” kata Pakde Karwo -sapaan Soekarwo-.

Disinggung mengenai lokasi jalan yang berada dekat dengan pusat pemerintahan provinsi Jawa Barat, Pakde Karwo mengaku tidak mempermasalahkan hal tersebut. Dirinya menilai, peresmian Jalan Majapahit dan Jalan Hayam Wuruk adalah simbolik. Sebab, yang paling penting adalah upaya positif yang dilakukan Pemprov Jabar dalam mengharmoniskan hubungan masyarakat Sunda dan Jawa.

“Kita di mana saja, karena jalan itu setiap hari dilihat orang, tempat transportasi barang dan jasa, tempat berkumpul dan jalan juga ada cerita tentang sejarah,” kata dia. (mg1/ign)

0 Komentar