Dalam disertasinya, Dhimam memang mengulas betul antara Jawapos dan Kompas. Menurut dia, keduanya masuk dalam The League of Thirteen sebagai pemain utama bisnis media di Indonesia (Lim 2004, Red).
Jawapos dan Kompas, kata dia, miliki kesamaan yaitu dibesarkan oleh dua tokoh besar dunia jurnalistik. Dia menegaskan, Jawapos dibesarkan Dahlan Iskan dengan sikap praktis dan pragmatis. Sementara Kompas dibesarkan Jacob Oetama yang cenderung lebih formal dan mengedepankan idealisme. ”Kedua grup ini memiliki wilayah kekuatan masing-masing. Kompas Grup dengan wilayah ibukota, sedangkan Jawapos Group menguasi daerah-daerah (mikro),” tandasnya.
Dari dua perbedaan yang disebutkan di muka, kata dia, juga berdampak pada sudut pandang (angle) berita yang ditampilkan. Sebagai sosok yang pernah ikut membesarkan, Jawapos bagi dia, selalu dibuat beda oleh sang kreator: Dahlan Iskan. ”Kompas memberitakan peristiwa, sedangkan Jawapos menceritakan peristiwa,” ungkapnya sambil menambahkan, jurnalistik terapan yang dijalani Dahlan Iskan tersebut merupakan jurnalisme tutur yang dibawa dari Tempo.
Baca Juga:KPU Jabar Pelesiran ke Geopark CiletuhSoler Bukan Asisten Pelatih
Sementara itu, Dhimam mengaku, bahagia dengan kelulusannya itu. Sebab, dengan kesibukan yang ada, para dosen dan pembimbing bisa berkoordinasi dengan baik. ”Tidak hanya itu, pihak-pihak terkait seperti kawan-kawan di Jawapos juga saat membantu penyelesaian desertasi ini. Terima kasih juga untuk keluarga dan sejawat yang menyempatkan hadir,” ungkapnya.
Sementara itu, jelang menjadi penguji sidang, Dahlan Iskan pun menyempatkan diri untuk mengisi kuliah umum untuk mahasiswa pasca sarjana.
Dahlan memaparkan, pesatnya perkembangan digital, nyatanya tidak lantas mematikan media cetak. Buktinya hingga saat ini, kebutuhan masyarakat terhadap media cetak masih cukup tinggi. Terlebih di era simpang siurnya informasi di media sosial.
”Jauh sebelum internet ada, koran akan mati setelah muncul radio. Nyatanya tidak. Bahkan lagi-lagi, tidak hanya koran, tapi radio juga diprediksi bakal mati dengan kemunculan televisi. Tapi nyatanya, sampai saat ini radio masih ada. Begitu juga saat internet baru-baru muncul, media cetak, radio bahkan televisi bahkan akan mati. Tapi lagi-lagi, semuanya hidup,” urai mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan dalam kuliah umum Tantangan Media di Era Tranformasi Digital, kemarin (2/4).
