Sejumlah tokoh publik di tanah air mengirimkan dukungan mereka ke Palestina lewat syal. Ada cerita perjuangan ribuan janda di Gaza di balik syal yang jadi senjata diplomasi Menlu Retno Marsudi.
ANDRA OKTAVIANI-BAYU AJI, Jakarta
PESAN dari Indonesia untuk Palestina itu dikirimkan Retno Marsudi lewat syal yang melingkar di leher. Ada bendera kedua negara yang bersanding di salah satu ujung.
”(Saya mengenakan) ini bukan semata komitmen pemerintah untuk mendukung Palestina. Tapi, juga bentuk dukungan dari masyarakat Indonesia,” terang menteri luar negeri Indonesia itu Kamis (7/12) di Jakarta.
Baca Juga:Stok Vaksin Difteri Aman77 Instansi Dalami Proposal Sinovik
Sehari sebelumnya (6/12), seperti diketahui, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendeklarasikan pengakuan bahwa Jerusalem adalah ibu kota Israel. Sebuah kebijakan yang memicu kecaman dan kemarahan di penjuru dunia.
Kedubes AS di banyak negara didemo. Poster Trump dibakar di mana-mana. Para pemimpin negara dan pemerintahan ramai-ramai menghujat. Malaysia bahkan menyatakan siap mengirimkan pasukan ke Palestina.
Namun, di antara keriuhan itu, pesan dari syal yang dikenakan Retno tetap kuat terkirim. Dengan segera menjadi viral. Kemudian, kian marak pejabat publik di tanah air yang juga mengirim pesan serupa: dukungan melalui syal.
Sehari setelah Retno, Gubernur Jakarta Anies Baswedan mengenakan syal serupa. Yakni, saat menghadiri pertemuan dengan seluruh pengurus kecamatan se-Jakarta Timur di GOR Ciracas.
Solidaritas untuk Palestina lewat syal itu juga menggema di gedung parlemen. Senin (11/12), saat DPR menggelar rapat paripurna penutupan masa sidang, para anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang hadir menggunakan pula syal Palestina. Begitu juga personel Fraksi Partai Persatuan Pembangunan dan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa. Yang pasti, berbagai syal itu tidak datang dari ruang hampa. Ada kisah panjang di baliknya.
Syal yang dikenakan Retno misalnya. Di baliknya ada cerita ribuan janda di Gaza yang menjadi saksi ketidakadilan dan kesewenang-wenangan Israel di sana. ”Maknanya sangat dalam. Touchy,” kata Retno.
