Mereka yang Menjadikan Sekolah sebagai Taman

Mereka yang Menjadikan Sekolah sebagai Taman
TAUFIQURRAHMAN/JAWA POS
TETAP INSPIRATIF: M. Hamid Basuki, guru di SLB yang mendapatkan penghargaan dalam program Guruku Permataku.
0 Komentar

Tantangan justru datang saat Hamid mengambil mata kuliah musik di kampusnya. Banyak materi tentang notasi dan nada yang diajarkan dosennya. Tak ada tabulasi yang ditulis lewat huruf braille. Dia kemudian memunculkan solusi untuk merekam seluruh pembicaraan dan praktik instrumen dari dosen. ”Saya rekam, terus saya bawa pulang. Saya pelajari di rumah,” ujar dia.

Di rumah Hamid lantas mendengarkan lagi, menemukan kunci-kunci nada, dan menuliskan notasi dengan huruf braille agar nanti mampu memainkan lagu tersebut. Hanya, ketika ujian semester, dia tidak bisa membaca soal. Juga tidak bisa menuliskannya. ”Saya bawa orang ke ruang ujian untuk membacakan soal dan menuliskan jawabannya,” cerita dia. Tentu saja dengan izin sang dosen.

Di sekolah pun Hamid berusaha membikin sebuah modul yang semua tabulasi musiknya dituliskan dengan huruf braille. Tujuannya, nanti para muridnya bisa memainkan dan mengenali lagu dengan mudah. (*/c9/oki/rie)

0 Komentar