Mereka yang Menjadikan Sekolah sebagai Taman

Mereka yang Menjadikan Sekolah sebagai Taman
TAUFIQURRAHMAN/JAWA POS
TETAP INSPIRATIF: M. Hamid Basuki, guru di SLB yang mendapatkan penghargaan dalam program Guruku Permataku.
0 Komentar

Hikmat akhirnya memutuskan untuk mengabdikan hidupnya bagi dunia pendidikan luar biasa. Kuliah dia tempuh. Sepeda motor Yamaha Byson miliknya dia bongkar dan modifikasi menjadi beroda tiga. Dengan koneksi rem dan gas yang disesuaikan dengan keterbatasannya. ”Naiknya biasa saja, Sukabumi–Bandung paling tiga jam,” terangnya.

Sambil kuliah, Hikmat juga mengajar di SLB Az Zakiyah Kota Bandung. Untuk tambah-tambah uang kuliah, dia bahkan menjadi sopir mobil rental. Dia bisa mengendarai mobil matik maupun manual. ”Saya bikin alatnya, sambungan rem dan gas,” ceritanya.

Saat ini Hikmat resmi mengajar di SLB Budi Nurani Sukabumi. Dalam kesehariannya, dia berusaha menjadi sosok sahabat dan pembimbing sekaligus orang tua bagi para muridnya. Contohnya saat berteman dengan murid-muridnya di media sosial milik mereka. ”Mereka posting, saya komentari.”

Baca Juga:Pembatalan 8 Jenis Penyakit Belum JelasIvan Petrus Terpilih Jadi Ketua Ilumni FH Unpar

Tapi, ada pula saat Hikmat membatasi dan memosisikan diri sebagai seorang pembimbing yang harus dipatuhi. Misalnya saat si murid menelepon untuk mengajak ngobrol pada malam hari. ”Saya stop pembicaraannya dan saya suruh belajar,” ucapnya.

Kata Hikmat, menjadi guru, terutama bagi ABK, harus dilakukan orang yang benar-benar terpanggil jiwanya. Bagi dia, selain sumber ilmu dan pengalaman, mengajar merupakan ladang pahala. ”Anak difabel itu anak pilihan Tuhan. Meski tidak semua orang mau peduli sama mereka,” tuturnya.

Sebagai guru, Hamid Basuki juga berusaha menciptakan suasana belajar menyenangkan di kelasnya. Hamid adalah seorang guru musik. Semua muridnya adalah anak tunanetra. Namun, kemampuan harmonisasi mereka sudah bisa diacungi jempol. Kemarin grup angklung mereka berhasil menyelesaikan lagu Heal the World milik raja pop Michael Jackson. ”Itu lagu sulit. Banyak pola nadanya,” ungkap dia.

Setiap memulai kelas, Hamid tidak lantas memegang spidol ataupun menyuruh membuka buku pelajaran. Dia mengajak seisi kelas bernyanyi. Dia pun tidak memaksa setiap murid mencapai standar yang dibuat. Tapi menyuruh mereka mengenali musik kesukaannya. ”Saya tanya suka musik apa, lagu apa, ayo nyanyi bareng,” katanya menirukan ucapan kepada muridnya.

Kecintaan Hamid pada musik tidak diraih dengan mudah. Hamid sudah tidak bisa melihat dari kecil. Dia mendengarkan keindahan musik hanya lewat suara. Dia harus menguasai alat musik lebih sulit daripada orang normal. ”Tapi, saya belajar musik dari SD sampai SMA tidak masalah,” kenangnya.

0 Komentar