Kesempatan Belajar dari Para Senior

penulis asia tenggara
PELAJARI INDONESIA: Sebnayak 12 peserta ASEAN-Japan Residency Program dalam ASEAN Literary Festival (ALF) saat mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah (2/8).
0 Komentar

Begitu pula Hariz. Interaksi selama residensi, baik dengan sesama penulis maupun dengan masyarakat, kian menyadarkannya betapa berharganya kebebasan berbicara.

”Saya tidak memiliki kesempatan untuk bersuara di negara saya, tapi Indonesia menerima kritik. Di Brunei, untuk menerbitkan buku, harus melewati sensor pemerintah,” paparnya saat menjadi pembicara dalam sesi Young Poets on Politics and Society, ASEAN Literary Festival, Minggu (6/8).

Bertemu dengan para penulis dari negara lain yang dianggapnya lebih senior juga kian memacu semangat Hariz untuk giat berkarya. Dia kini sedang berproses menerbitkan buku kumpulan puisinya, Flowers in the Chakrawala dengan Heartwrite, penerbit indie di Brunei. Sebagian puisinya berkisah tentang cinta, ada pula yang menyuarakan problem sosial.

Baca Juga:Kali Ketiga Raih Anugerah BudhipuraEzechiel N`Douassel Bisa Dimainkan

Kalau Hariz mengaku sebagai penulis pemula, empat peserta residensi dari Indonesia telah cukup aktif berkarya. Yusri Fajar yang merupakan dosen program studi sastra Inggris di Universitas Brawijaya Malang, misalnya, telah menghasilkan banyak puisi dan kumpulan cerita. Tulisannya banyak diterbitkan di berbagai media massa tanah air.

Yusri menyelesaikan studi sastra di Universitas Bayreuth Bayern, Jerman (2008–2010). Serta mengikuti short course di Leeds University Inggris (2007), program visiting scholar dalam bidang sastra Amerika kontemporer di University of Louisville Kentucky USA (2016), dan sederet pengalaman lainnya.

Intan Andaru merupakan dokter alumnus FK Universitas Airlangga Surabaya. Karya pertamanya, Saat Waktu Berkejaran (2013), berkisah tentang mereka yang hidup dengan HIV/AIDS.

Karya lainnya, 33 Senja di Halmahera, terinspirasi dari pengalamannya menjadi dokter PTT di Halmahera, Maluku Utara. Di sana Intan juga menggagas komunitas baca dan perpustakaan.

Ira Lathief dalam sepuluh tahun karir menulis profesionalnya sudah menghasilkan 17 buku dengan beragam genre. Dua di antaranya masuk best seller, yaitu Normal is Boring serta Do What You Love, Love What You Do.

”Setelah program residensi berakhir, kami tetap keep in touch. Kalau ada kesempatan bakal saling mengunjungi ke negara masing-masing,” ujar Ira yang menjadi pemandu bagi rekan-rekannya saat berkunjung ke TMII.

Output dari program itu, setiap peserta diminta menulis pengalaman residensi dalam berbagai bentuk dan platform. Opini, esai, artikel, cerita pendek, apa saja. Baik itu di media massa, media sosial, buku, maupun lainnya.

0 Komentar