Cerita Jamaah Tabligh Terjebak Baku Tembak di Filipina Selatan

Cerita Jamaah Tabligh Terjebak Baku Tembak di Filipina Selatan
MIFTAHULHAYAT/JAWA POS
PULANG SELAMAT: Handris (2kiri) dan Andri (kedua kanan), WNI yang berhasil dievakuasi dari Kota Marawi, Mindanao, Filipina tiba di Bandara Soekarn Hatta, Tanggerang, Banten, Sabtu (3/5) lalu.
0 Komentar

Kendati begitu, mereka diminta tetap berada di dalam masjid sambil menunggu arahan selanjutnya. Sempat muncul rasa khawatir dan rindu mendalam kepada anak dan istri di rumah. Tapi, mereka kembali berpasrah kepada Allah. Dua hari menunggu bantuan dimanfaatkan untuk terus memanjatkan doa kepada Allah SWT agar diberi jalan terbaik.

”Ya, ada tembakan. Cukup jelas. Tapi, kami di dalam. Kami menyerahkan sepenuhnya kepada Allah,” tutur dia. Itu pengalaman pertama Handris berada dalam situasi konflik saat menjalani khuruj di Filipina. Sebelumnya, pada 2013, menurut dia, kondisi sangat aman dan nyaman.

Pengalaman berpuasa di tengah konflik juga dialami kelompok 6 yang berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Meski berada sekitar 120 km dari Marawi, tepatnya di wilayah Sultan Naga Dimaporo, kondisi mencekam begitu terasa. Rombongan yang diketuai Andri Supriyanto itu harus tertahan di masjid selama beberapa hari gara-gara konflik bersenjata. Dalam kondisi yang mengancam tersebut, dia hanya menanamkan kepada diri sendiri bahwa niat baik akan diberi yang terbaik pula oleh Sang Pencipta.

Baca Juga:SOKSI Gagas Badan Pemantau Nilai Ideologi1,2 Juta Rumah Baru dari Bank Dunia

”Hari pertama kejadian, kami sudah di masjid. Jadi, kami hanya dari dalam masjid mendengar baku tembak. Kami tidak bisa keluar lagi. Tetapi, kami dijaga pihak kepolisian Filipina,” ungkapnya.

Pengalaman yang luar biasa itu tak henti-henti membuat Andri berucap syukur saat mendarat di bandara. Dia turut menyampaikan rasa terima kasih bagi pemerintah, terutama Konjen RI Berlian Napitupulu beserta tim evakuasi.

”Pemerintah kita melakukan evakuasi dua rombongan di lokasi yang berbeda dengan taruhan nyawa mereka. Tidak pakai pengawalan. Alhamdulillah, Allah SWT memudahkan semuanya sehingga sampai dengan begitu cepat,” ungkapnya dengan rasa haru.

Dari kejadian itu, pria yang mengenakan jubah putih tersebut mengaku mendapat banyak pelajaran. Terlebih soal rasa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Sebagai bangsa yang besar, tak peduli apa agama dan sukunya, tetap saling membantu.

”Hari ini Allah SWT telah tunjukkan sebuah bangsa yang besar. Karena masya Allah, Konjen kita ini bukan muslim, tetapi begitu Indonesia,” tutur pria berkacamata itu sebelum kembali dibawa ke dalam bandara. Proses evakuasi yang tak mudah tersebut dibenarkan Konjen RI Davao Berlian Napitupulu. Diperlukan waktu hingga tiga hari sejak 29 Mei 2017 untuk mengevakuasi 16 anggota Jamaah Tabligh tersebut. Apalagi, ada tim yang bergerak sendiri tanpa pengawalan militer.

0 Komentar