Mbah Ponco Sutiyem, Nenek 95 Tahun Nomine Aktris Terbaik AIFFA 2017

Mbah Ponco Sutiyem
GUNAWAN/JAWA POS
NATURAL: Mbah Ponco Sutiyem sedang memilah kacang tanah hasil kebun saat ditemui di rumahnya di Gunungkidul pekan lalu.
0 Komentar

Namun, film Ziarah tak pulang dengan tangan hampa. Dua penghargaan Best Screenplay dan Special Jury Award berhasil diraih. Nah, khusus penghargaan Special Jury Award rupanya merupakan bentuk apresiasi para juri atas akting dan kiprah Mbah Ponco yang dinilai memberikan warna baru dalam dunia perfilman Asia Tenggara.

Akting kuat Mbah Ponco rupanya muncul dari karakter mentalnya yang kuat. Berasal dari pelosok desa, tak bisa membaca, dan tak pernah berakting di depan kamera tak membuatnya inferior. Itu tergambar saat wartawan Jawa Pos (Jabar Ekspres Group) menyambangi rumahnya di Dukuh Batusari, Desa Kampung, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul.

Ketika ditanya bagaimana perasaannya saat awal diminta menjadi pemeran utama dalam film Ziarah, lalu masuk nominasi dan bersaing dengan aktris-aktris papan atas Asia Tenggara, Mbah Ponco menjawab mantap. ”Kula mboten wedi kalih wong-wong gedhe. Ngasi ponakan kula sik ten Jakarta takon, kok wani. Kula niku nggih wani, kula mboten saged moco (Saya tidak takut dengan orang-orang besar. Sampai keponakan saya yang di Jakarta tanya, kok berani. Saya berani (meski) saya tidak bisa membaca.” Demikian kata Mbah Ponco, lantas tersenyum.

Baca Juga:KPK Cueki Praperadilan MiryamGaungkan Pembubaran HTI

Mbah Ponco lalu teringat saat diminta beradu akting dengan sang menantu nomor tiga, Supriyanto, menggunakan bahasa Jawa halus (krama inggil). Padahal, bahasa Jawa halus idealnya dipakai yang muda saat berbicara dengan orang tua. Namun, sutradara membaliknya dan mengharuskan Mbah Ponco berbahasa Jawa halus.

Kula diken boso kalian anak kula, kula ngguyu. Lha wong sama anak kok boso (Saya disuruh berbahasa Jawa halus kepada anak saya. Saya tertawa. Lha sama anak kok disuruh berbahasa Jawa halus atau hormat),” ucap Mbah Ponco, lantas tersenyum geli.

Saat ditanya bagaimana menjalani peran sebagai Mbah Sri dengan sangat baik, Mbah Ponco mengungkapkan bahwa sosok Sri itu mirip dengan dirinya. Dia lantas menceritakan kisah hidupnya. Ingatannya masih cukup kuat.

Mbah Ponco mengisahkan, sekitar akhir 1930-an, dirinya yang saat itu berusia 16 tahun dinikahi Ponco Sentono, seorang pemuda asal Padukuhan Batusari, Desa Kampung, Kecamatan Ngawen, Gunungkidul, yang hingga kini setia mendampinginya. Tak lama setelah menikah, masuklah masa penjajahan Jepang.

0 Komentar