Dia begitu yakin karena sebelum Raja Salman meninggalkan Jakarta, ada pertemuan khusus dengan sedikitnya enam menteri dari Kerajaan Arab Saudi di ruang tunggu VVIP bandara tersebut. Pertemuan tidak lebih dari sejam. ”Walaupun pertemuannya singkat tetapi mereka sangat ingin segera semua dilaksanakan dengan baik. Karena mereka yang melaksanakan, menteri-menteri itu,” kata JK.
Sedangkan hasil konkrit yang diharapkan bisa direalisasikan dalam waktu dekat adalah pariwisata untuk keluarga. Lokasinya bukan hanya di Bali, tapi juga di Mandalika, Lombok dan Padang. Sedangkan kerjasama dengan Pertamina dengan perusahaan minyak Aramco di Cilacap sebenarnya sudah dimulai sejak tahun lalu.
Menlu Retno Marsudi mengingatkan, kunjungan kenegaraan dan komitmen kerjasama tidak bisa langsung dinilai dengan nominal. Bagaimanapun, kerjasama tidak terjadi dengan seketika. ’’Semuanya memerlukan proses,’’ ujarnya. Khusus Saudi, pemerintah kedua negara sepakat membuka banyak peluang di bidang ekonomi ketimbang yang dikenal selama ini, yakni urusan ibadah dan ketenagakerjaan.
Baca Juga:500 Rumah Terendam Banjir di PasehUmuh Ungkap Penyebab Kegagalan Persib Lolos ke Final
Dari beberapa negara yang melakukan kunjungan di Indonesia pada satu tahun terakhir, kunjungan Jepang dianggap sebagai yang paling menguntungkan jika dilihat dari realisasi kerjasama dan investasi. Alasannya karena dibanding negara-negara lainnya, Jepang disebut sangat paham dengan iklim investasi Indonesia.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Rosan P Roeslani menyatakan, dibanding beberapa negara yang berkunjung ke Indonesia, seperti Belanda dan Arab Saudi, Jepang datang dengan materi kerjasama yang sangat mendetail. ”Karena pengusaha Jepang paham dengan environment bisnis di Indonesia. Terkait regulasi di sini, kultur tenaga kerjanya, dan sebagainya,” ujar Rosan, kemarin (5/3).
Selain itu, faktor lain yang memudahkan kerjasama antara Indonesia dan Jepang, adalah karena investasi Jepang yang begitu besar di Indonesia. Berdasarkan data Badan Kordinasi Penanaman Modal (BKPM) tahun 2016, Jepang ada di urutan dua setelah Singapura, dengan nilai investasi mencapai USD5,4 miliar atau sekitar Rp71,8 triliun di 3.302 proyek.
”Investasi yang besar menunjukkan adanya trust dari kedua negara. Sehingga, ketika mau berekspansi pada kerjasama-kerjasama yang lain lebih mudah,” tambah Rosan. Menurut Rosan, tindak lanjut kerjasama Indonesia dengan Jepang sudah terealisasi sekitar 70 persen.
