Perjuangan Anak-Anak Adopsi Belanda Menemukan Orang Tua Asli Mereka

Perjuangan Anak-Anak Adopsi Belanda Menemukan Orang Tua Asli Mereka
TAUFIQURRAHMAN/Jawa Pos
MENCARI JEJAK: Ana Maria van Keulen (kiri) bersama Kristi (dua dari kiri) di ujung Jembatan Jagir Wonokromo, Surabaya.
0 Komentar

Dokter kemudian mengidentifikasi Kristi melalui ari-ari yang masih menempel di pusarnya. ”Menurut dokter, saya ditinggalkan setelah 24 jam dilahirkan,” kata Kristi. Salah seorang dokter akhirnya mengadopsi Kristi. Pada umur empat tahun, dia dibawa terbang ke Belanda untuk tinggal di sana.

Meski pada waktu itu Kristi belum bisa melihat dan ingatannya belum terbentuk, sebuah memori kuat menghampiri Kristi saat berusia 24 tahun. Dia terbaring menghadap jalan raya dan menyaksikan sekelompok orang berjalan menjauh meninggalkannya. Meski hanya ingatan, Kristi cukup yakin. ”Saya benar-benar merasakannya,” kata Kristi.

Ana Maria yang sejak tadi memperhatikan berkomentar bahwa hal yang dialami Kristi itu wajar dan masuk akal. Sekecil apa pun, seorang anak akan menyimpan ingatan tentang masa kecilnya dan tempat dia dilahirkan. Meskipun pada waktu bayi. Ana sendiri mengaku mengalaminya. Hanya berbekal ingatan, Ana pernah menggambar bentuk rumah tempat dirinya dilahirkan. Ana menemukan rumah kelahirannya pada usia 18 tahun. ”Rumah itu cocok dengan gambar saya,” kata Ana.

Baca Juga:Polda Sita 6 Kg Shabu-shabuAndik Harus Istirahat Enam Pekan

Ana dan Kristi punya cerita yang sama. Mereka berdua adalah anak-anak Indonesia yang besar di Belanda. Namun, Ana beruntung karena bisa menemukan kembali orang tuanya pada 1990-an. Rumah orang tuanya terletak di lereng perbukitan kapur di Ciampea, Bogor. Dikelilingi sawah, sungai, dan perkampungan.

Di rumah tersebut, Ana bertemu dengan ibu kandungnya. Tak lama kemudian, kabar kepulangan Ana sampai ke telinga ayah kandungnya yang segera datang ke rumah tersebut. Ana akhirnya bertemu, baik dengan ayah maupun ibu kandungnya. ”Tapi, mereka ternyata tidak pernah menikah,” kenang Ana.

Pada 2014, Ana pulang dan tinggal di Indonesia. Rumahnya terletak di kompleks Perumahan Dian Istana, Wiyung, Surabaya. Beberapa kawan yang tahu bahwa Ana pindah ke Indonesia meminta bantuannya untuk mencarikan petunjuk tentang orang tua mereka. Ana pun menyanggupi.

Pertama-tama, Ana menyebarkan informasi melalui berbagai media sosial, cetak, radio, maupun televisi. Kemudian, dilakukan pelacakan berdasar dokumen modal dari si anak adopsi. Dalam melakukan pekerjaan itu, Ana hanya dibantu dua asisten.

0 Komentar