Perjuangan Anak-Anak Adopsi Belanda Menemukan Orang Tua Asli Mereka

Perjuangan Anak-Anak Adopsi Belanda Menemukan Orang Tua Asli Mereka
TAUFIQURRAHMAN/Jawa Pos
MENCARI JEJAK: Ana Maria van Keulen (kiri) bersama Kristi (dua dari kiri) di ujung Jembatan Jagir Wonokromo, Surabaya.
0 Komentar

Selain itu, Ana meminta beberapa warga yang dikenalnya untuk melakukan pencarian dengan sepeda motor. Jumlahnya sekitar empat orang. Ana membutuhkan mereka untuk menyambung komunikasi karena dirinya tidak bisa berbahasa Jawa atau bahasa daerah tempat anak adopsi diduga lahir. Ana juga meminta si anak adopsi menyediakan sejumlah uang. ”Hanya untuk ongkos,” kata Ana.

Khusus pada anak adopsi yang mau datang ke Indonesia, Ana menemani mereka untuk melacak keberadaan orang tua mereka. Beberapa berakhir dengan pertemuan mengharukan. Beberapa berakhir dengan kekecewaan. Ada juga yang berakhir dengan kesedihan karena orang tua yang dicari ternyata sudah meninggal.

”Dua tahun terakhir, saya menuju enam lokasi. Ditambah dua bulan lalu, jadi delapan,” kata Ana. Lokasi-lokasi tersebut, antara lain, Nongkojajar, Pasuruan; Kota Batu; Jogjakarta; Semarang; Tegal; dan Magelang.

Baca Juga:Polda Sita 6 Kg Shabu-shabuAndik Harus Istirahat Enam Pekan

Di Nongkojajar, seorang adopsi berhasil menemukan ibu kandungnya. Pencarian relatif mudah karena sang ibu menyimpan foto si anak di bawah bantalnya. Pertemuan pun berlangsung mengharu biru. ”Wajah mereka juga mirip. Si ibu langsung mengenali,” tutur Ana.

Seorang anak adopsi bernama Wendy tidak terlalu beruntung. Pencarian selama berminggu-minggu menuntunnya ke sebuah desa di pedalaman Magelang. Dia segera menemukan rumah orang tuanya. Sayang, keduanya sudah meninggal enam hari sebelum kedatangan Wendy. ”Hanya ketemu dengan saudari perempuannya. Dia (saudara Wendy, Red) merasa sedih sekaligus senang,” ungkap Ana. Mereka kemudian meninggalkan sejumlah uang untuk biaya perawatan makam orang tuanya.

Semakin banyak permintaan anak-anak adopsi kepada Ana. Perempuan 40 tahun itu pun berinisiatif untuk mendirikan sebuah yayasan. Khusus untuk membantu para anak adopsi Belanda untuk menemukan orang tua mereka. Atau jejak apa pun yang tersisa darinya. Yayasan tersebut bernama Mijn Roots. Artinya, akarku.

Hingga saat ini, Ana masih terus memfasilitasi para anak adopsi yang ingin menemukan orang tua mereka. Contohnya, saat dia membantu Kristi kemarin siang. Dia lantas membawa Kristi beranjak dari pinggir jembatan Wonokromo.

Meski petunjuk belum terang, bagi Kristi, setidaknya dirinya punya energi baru untuk terus melakukan pencarian. Menurut Kristi, para anak Indonesia pasti merindukan kampung halamannya. ”Ketika sudah dewasa, kami merasa ada yang hilang,” katanya selepas melayangkan pandangan terakhir pada Jembatan Jagir Wonokromo. (*/c6/dos/JPG/fik)

0 Komentar