Di tempat terpisah, budayawan dan seniman Butet Kartaredjasa mengungkapkan, Hasmi adalah sosok komikus legendaris yang disiplin dalam mengerjakan karyanya. ”Beliau juga aktor yang cerdas dalam dunia teater. Untuk menghidupkan tokoh di dalamnya, Pak Hasmi juaranya,” puji Butet.
Butet juga mengaku sering bekerja sama dengan Hasmi di beberapa karya seni teater. Salah satunya pementasan Gundala Gawat. Peran penting Hasmi di dunia teater juga sangat membantu anak-anak muda untuk berkarya lebih baik lagi.
”Beliau sering membagikan ilmunya kepada anak-anak teater di Jogjakarta, bagaimana memerankan tokoh dengan baik di atas panggung,” kenangnya.
Baca Juga:Vietnam vs Indonesia: Harus Lebih Bagus Karena Sudah LengkapLaptop Hilang, Nyawa Melayang
Butet mengungkapkan, dengan kepergian Hasmi, dunia seni kehilangan tokoh penting di bidang komik dan perfilman. ”Walaupun karya dan kiprahnya besar, hal itu tidak membuat beliau lupa diri dan tetap hidup sederhana, mau membaur dengan siapa saja. Saya sangat kehilangan. Namun, kami akan terus mengenang karya-karyanya,” kata Butet.
Untuk diketahui, Gundala Putera Petir, karya terbesar Hasmi, merajai dunia komik tanah air pada 1970-an sampai 1980-an. Seri perdana Gundala Putera Petir terbit pada 1969. Judul pertamanya adalah Gundala Putera Petir. Sampai 1982, total ada 23 judul. Di mana-mana, tiap judul terbagi dalam beberapa seri. Bahkan, ada yang menembus 12 seri.
Gundala Putera Petir, yang terinspirasi legenda Jawa Ki Ageng Sela, besar bersama serial komik lain, Godam Manusia Besi. Mereka menjadi komik hebat Indonesia sebelum akhirnya dikalahkan manga dari Jepang sejak 1990-an sampai sekarang.
Di luar komik, Hasmi juga aktif sebagai penulis skenario film. Di antaranya, skenario film Kelabang, Lorong Sesat, dan Harta Karun Rawa Jagitan. Dia juga menulis skenario untuk acara ketoprak di TVRI Jogjakarta.
Selamat jalan Hasmi. Karyamu akan senantiasa dikenang. (*/c11/ang/rie)
