Ketika Jalur Gerilya GAM di Hutan Aceh Menjadi Objek Wisata Petualangan

wisata-petualangan-jalur-gam
JAWA POS PHOTO
DIJAMIN AMAN: Wartawan Jawa Pos berpose di depan bukit cadas yang menjadi persembunyian gerilyawan GAM di kawasan Pucok Krueng, Aceh Besar.
0 Komentar

”Saya tidak tahu kenapa. Padahal, kalau lewat jalan sini, lebih dekat. Bisa memotong jalur sekitar 30 kilometer,” tuturnya. Akibat sepinya jalan itu, aktivitas perekonomian di kawasan tersebut juga minim.

Namun, Rabu siang (7/9) itu, desa tersebut cukup ramai. Banyak pemuda yang berkumpul di balai-balai. ”Kalau siang, begini suasananya. Nanti malam mereka baru ke laut,” tutur Amiruddin, eks kombatan yang lain.

Rata-rata eks kombatan di desa tersebut bekerja sebagai nelayan. Mereka mengoperasikan kapal ikan milik warga setempat. Komoditas utamanya ikan teri. Bila beruntung, mereka bisa mendapat ikan tongkol. Namun, jika sedang musim angin barat, mereka tidak melaut karena berbahaya.

Baca Juga:Kami Ingin Prestasi, Bonus Rp 1 Miliar Bukan PemborosanFenomena Atlet Ngebon dan Jorjoran Bonus di PON XIX Jabar

Pemuda 30 tahun itu menuturkan, problem utama eks kombatan memang minimnya skill. Kebanyakan hanya punya kemampuan survival di hutan sebagai gerilyawan. Karena itu, mereka sangat ingin mendapat pelatihan apa saja agar bisa menjadi bekal dalam bekerja. Mereka juga berharap mendapat modal usaha.

Meski begitu, ada juga eks kombatan yang bisa mandiri dan tidak mengharapkan uluran tangan pemerintah. Contohnya, M. Yunus. Pria yang akrab dipanggil Bijeh Leubih itu, rupanya, mewarisi kemampuan neneknya membuat mi dan roti. Dia menggunakan kemampuan tersebut untuk bertahan hidup. Bijeh membuka usaha home industry mi tiga tahun terakhir.

Saat ditemui di pasar sekitar tempat pelelangan ikan di Desa Meunasah Gede, Bijeh sedang memproduksi mi bersama Azhar Ibrahim alias Tengku Alu, juga eks kombatan yang menjadi pegawainya. Alu yang kini harus menggunakan kruk untuk berjalan ditugasi menggiling adonan bahan mi.

Bijeh menuturkan, dirinya tidak menyimpan sendiri kemampuan membuat mi itu.

”Saya ajari beberapa orang korban DOM (Daerah Operasi Militer) membuat mi dan roti seperti ini,” ujar pria 48 tahun itu.

Alhamdulillah, kini mereka bisa membuka usaha sendiri di rumah masing-masing,” tandasnya. (*/c5/ari/rie)

0 Komentar