Meski, untuk berkomunikasi, Marjuni dan para pemandu lainnya hanya bisa menggunakan bahasa tarzan. ”Itu (tidak bisa berbahasa asing, Red) memang kelemahan para pemandu di sini. Terpaksa, kami berkomunikasi dengan bahasa isyarat,” jelasnya.
Pengalaman yang sama dialami pemandu wisata yang lain, Armansyah dan Ferizal. Ril, panggilan Ferizal, mengungkapkan, biasanya Mendel John Pols, direktur operasional Aceh Explorer, terpaksa ikut memandu turis asing. Sebab, warga Belanda yang kini tinggal di Aceh itu adalah satu-satunya yang bisa berbahasa asing.
”Tapi, kalau sudah naik ke bukit, dia (Mendel) tidak ikut,” ucap Ril, lantas tersenyum. Maklum, Mendel bertubuh tambun sehingga kesulitan bila harus naik ke perbukitan.
Baca Juga:Kami Ingin Prestasi, Bonus Rp 1 Miliar Bukan PemborosanFenomena Atlet Ngebon dan Jorjoran Bonus di PON XIX Jabar
Bila sudah begitu, para pemandu hanya bisa mengandalkan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan klien. ”Misalnya, kalau waktunya istirahat dan makan, saya gerakkan tangan menirukan gerakan orang makan,” kata Ril. Begitu pula bila para turis asing itu diminta ekstrahati-hati saat melintasi medan yang licin dan berbahaya.
Meski komunikasi terbatas, Ril dan Armansyah mengaku enjoy memandu para turis asing. Apalagi bila turis-turis tersebut tidak rewel saat mendaki. ”Kami pun senang menjalankan pekerjaan ini. Rasanya tidak capek.”
Berinteraksi dengan turis asing membuat Ril, Armansyah, dan Marjuni terpacu untuk bisa belajar bahasa asing, terutama bahasa Inggris. ”Kalau ada yang mengajari, kami mau,” tutur Armansyah. ”Ini tuntutan pekerjaan,” tambahnya.
Marjuni, Ril, dan Armansyah termasuk beruntung bisa bekerja menjadi pemandu wisata. Sebab, banyak mantan kombatan yang kini menganggur. Kalau toh bekerja, sifatnya serabutan.
Misalnya, yang tampak di Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar. Di Desa Meunasah Gede, ada 23 eks kombatan yang tinggal di kawasan pesisir tersebut.
Desa Meunasah Gede berjarak sekitar 32 kilometer arah tenggara Banda Aceh. Untuk mencapainya, bisa menggunakan kendaraan bermotor menyusuri kawasan pesisir utara Aceh. Lebar jalannya 7 meter dan di beberapa titik dilebarkan menjadi 10 meter. Kondisi jalan tergolong mulus serta sepi.
Menurut Kamaruzzaman, salah seorang mantan kombatan di kawasan itu, jalan tersebut sepi dari lalu lintas karena kendaraan dari Banda Aceh yang hendak menuju Medan, Sumut, memilih jalur tengah di kawasan pegunungan.
