Heru sendiri sudah mengabdi selama 30 tahun. Selama itu pula, dia aktif di berbagai kegiatan sekolah. Mulai dari membina Pramuka, Paskibra sampai kegiatan lainnya. Malah Heru menyatakan kalau dirinya yang pertama kali membentuk Paskibra di SMAN 1 Ciawigebang, Kabupaten Kuningan. ”Itu saat saya masih sehat. Dan saya selalu menekankan kepada anak didik untuk terus berolahraga. Sebab, dulu ada siswi dari sekolah ini yang diterima di ITB akhirnya meninggal karena kurang olahraga. Di rumah juga banyak murid yang belajar olahraga ke saya,” tuturnya.
Soal sikap keras dan disiplinnya Heru diakui rekannya sesama guru olaraga, Ajat Sudrajat. Ajat yang lima tahun lagi akan pensiun itu melihat sosok sahabatnya tersebut tipe pekerja keras, dan pantang dikasihani orang lain. Sebab, selama puluhan tahun selalu bareng, dia jadi hapal betul watak dan karakter Heru.
”Pak Heru itu sangat keras ketika mengajar olahraga. Tujuannya agar anak didiknya benar-benar memahami apa yang diajarkannya. Soal disiplin dan semangatnya, saya tidak meragukan lagi. Guru-guru di sini juga sangat senang dengan kedisplinan yang diperlihatkan Pak Heru,” ujar Ajat.
Baca Juga:Triyono, Penyandang Disabilitas yang Bikin Layanan Ojek untuk Kalangan DifabelTommy Soeharto Ikut Tax Amnesty
Ajat dan guru lainnya juga mengatakan, jika secara materi, rekannya tersebut sudah mapan. Keempat anaknya yang lulusan perguruan tinggi sudah bekerja baik di instansi pemerintah maupun swasta. ”Kalau hanya materi, Pak Heru itu tidak kekurangan. Keempat anaknya sudah sukses, dan mampu memenuhi kebutuhannya. Tapi karena merasa bertanggung jawab terhadap pekerjaannya yang belum selesai, dia tetap mengajar sampai pensiun nanti,” pungkas Ajat.
Kepala SMAN 1 Ciawigebang, Kabupaten Kuningan Drs H Dedi Suwardi MPd menuturkan, sudah setahun ini Heru terkena stroke dan diabetes yang membuatnya harus cuci darah dua kali sepekan. Meski begitu, dia tak ingin melepaskan tanggung jawabnya dalam mencerdaskan anak didiknya.
”Dia seorang pendidik yang tangguh dan bertanggung jawab. Sikapnya keras dan tak ingin dikasihani. Kendati sakit, Pak Heru tetap mengajar seperti biasa. Saya salut dengan semangat dan dedikasi dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang pendidik. Jarang saya menemukan guru seperti beliau,” papar Dedi.
