Proyek Merah Putih PLTA Poso, Tempat Insinyur Indonesia Membuktikan Diri

PLTA poso
F-JUNEKA/JAWA POS
BERAGAM CARA: Achmad Kalla (tengah berkacamata) bersama para insinyur PLTA Poso. Mereka belajar dengan cara melihat Google.
0 Komentar

”Kalau sekarang ya sudah beda. Hanya satu bank, BRI yang biayai Poso 1,” ujar Alimuddin Sewang, salah seorang insinyur. Dia kini dipercaya jadi direktur di PT Poso Energy. ”Yang perlu dicatat, pendanaan itu dari dalam negeri lho. Bukan dana asing,” imbuh alumnus Teknik Mesin Universitas Hasanuddin Makassar tersebut.

Total pekerja yang dilibatkan dalam proyek itu mencapai 3.000 orang. Seluruhnya diambilkan dari warga lokal. Syarat utama saat pendaftaran adalah identitas diri. ”Kalau KTP Poso boleh daftar. Makanya, warga bangga karena ikut terlibat,” ujar Achmad.

Selama pengerjaan, kendala bukannya tidak ada. Misalnya, tanah di tebing beberapa kali longsor dan fondasi hilang digerus air. Miliaran uang pun amblas.

Baca Juga:Donna Agnesia Jadi Full Time MommyHewan Layak Kurban Ditempeli Label

Ada juga kesalahan yang dibuat para insinyur. Achmad menceritakan, salah satunya diperbuat Alimuddin. Ali membuat tailrace (saluran air setelah turbin) dengan desain tertutup sepanjang 400 meter. Dia berharap saluran itu bisa menghindari potensi tanah longsor. Tapi, desain tersebut justru salah kaprah. ”Kami buka Google, di Rusia dengan desain yang sama, turbinnya sampai loncat gara-gara air yang menumbuk balik,” jelas Ali.

”Sederhananya, ongkos bodoh lah,” timpal Achmad, lantas tertawa. Berapa ongkos itu? ”Lima miliar,” jawab dia. Saluran beton yang dibuat selama dua bulan tersebut harus dibongkar. ”Itu baru satu. Masih ada banyak,” ujar Achmad. Derai tawanya makin keras. Namun, dari kesalahan itu, mereka terus belajar.

Mereka juga betul-betul memanfaatkan Google untuk belajar agar tidak gampang salah langkah. Achmad cukup sering berselancar mencari pengetahuan tambahan tentang PLTA. Termasuk saat membutuhkan bantuan tenaga ahli yang mengerti betul soal turbin. Mereka mencari orang yang tepat lewat mesin pencari itu.

”Ketemulah Prof Stanislav Pejovic dari Toronto, Kanada. Kami hubungi dia lewat e-mail dan dia mau,” kata Achmad. ”Tapi, bayarnya mahal. Sehari 1.000 euro. Tiket harus dikirim dulu,” ujarnya. Profesor tersebut mengajar mereka selama dua pekan. Achmad mengajak 20 insinyur untuk menimba ilmu langsung dari profesor itu pagi hingga malam.

Setelah merasa cukup, mereka mencari pabrikan turbin di luar negeri. Itu juga bukan perkara gampang. Masalahnya pun sama. Pabrikan ragu-ragu dengan keseriusan para insinyur tersebut untuk membuat pembangkit listrik tenaga air. Tidak ada pabrikan besar yang mau melayani.

0 Komentar