Angka Inflasi Pasca Lebaran di Jabar Tetap Terkendali

Ilustrasi Inflasi
Petani cabai emncoba menjual hasilkebunya dengan cara menggelar dagangannya dipusat keramaian agar tidak mengalami kerugian karena merosotnya harga. (Foto: dok Jabareskpres.com)
0 Komentar

Sehingga tarif angkutan yang tinggi masih dirasakan bahkan hingga akhir bulan. Adapun kenaikan tarif angkutan antar kota ini khususnya terjadi pada kelas non-ekonomi.

Dari kelompok energi, kenaikan  tarif listrik pada bulan Juli 2016 pada kisaran Rp33-Rp48/kWh juga turut menyumbang kenaikan tekanan harga dari kelompok administered prices.

Berdasarkan kota perhitungan inflasi, sebanyak tujuh kota di Jawa Barat mengalami inflasi. Adapun inflasi tertinggi terjadi di Kota Sukabumi sebesar 0,93 persen (mtm) sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Cirebon 0,24 persen (mtm).

Baca Juga:Pembangunan Infrastruktur Optimalkan Pelayanan dan Perekonomian DesaBandros Segera Beroperasi

Komoditas bayam, kentang, dan petai menjadi penyumbang inflasi utama di Kota Bekasi. Sementara itu, penurunan harga komoditas tomat sayur, telur ayam ras, dan kacang panjang menjadi pendorong deflasi di Kota Cirebon.

Seiring dengan berlalunya momentum Hari Raya diperkirakan pola konsumsi masyarakat akan kembali pada pola normalnya. Namun demikian, curah hujan yang diperkirakan masih akan cukup tinggi serta tengah berlangsungnya musim tanam untuk komoditas beras menjadi faktor yang perlu diwaspadai dari kelompok inflasi volatile food.

Secara umum, Survei Konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia memperkirakan tekanan kenaikan harga-harga masih akan cukup tinggi di bulan Agustus ditunjukkan melalui Indeks Ekspektasi Harga (IEH) bulan Agustus 2016 sebesar 172,5 namun akan terus menurun hingga bulan Oktober dengan IEH sebesar 114,0. (rls/fik)

0 Komentar