Persoalan lain, apa benar harus masuk terminal? Saya pikir, kata Folmer, hal itu tidak perlu terjadi. Karena, mobil tidak mengambil penumpang. Menjemput pelajar cukup di selter, itupun tidak berhenti. Setelah aktivitas itu, bus kembali pulang ke pool.
”Fungsi Bus Sekolah sebatas antar jemput. Maka, jangan perlakukan angkutan khusus seperti angkutan umum,” ujarnya.
Poinnya, sambung Folmer, eksistensi Bus Sekolah gratis itu dari sekolah ke sekolah, tinggal pembagian di rayonisasi, itu yang benar.
”Kalau kembali ke pool akan memakan waktu, atau timbulkan kemacetan, usai antar sekolah bisa menunggu di halaman sekolah. Pada jam bubaran sekolah kembali beraktivitas,” kata Folmer.
Kendati demikian, kilah Folmer, manakala sistem rayonisasi sekolah berjalan baik, keberadaan Bus Sekolah dapat dipertanyakan. Sebab, biaya operasional akan tinggi. Kalau demikian, melalui subsidi silang memang yang cocok untuk kota Bandung, angkot sekolah.
Pendapat sama dilontarkan anggota Komisi D DPRD Kota Bandung Hasan Faozi. Dia setuju angkot yang disubsidi Pemkot daripada memaksakan operasional Bus Sekolah yang belum miliki kajian ilmiah. Bus sekolah itu, bisa jadi percontohan gunakan jadi bus karyawan Pemkot.
”Kepala dinas atau pejabat lain naik bus karyawan, itu sepertinya bisa jadi contoh yang patut ditiru,” ucap Hasan.
Baca Juga:Prisia Nasution Dipersunting Aktor MalaysiaPengamanan Lebaran, PON dan Pilkada Menanti
Kegaduhan yang terjadi, dalam pandangan Oji –sapaan Hasan Faozi-, akibat dari konsep kebijakan yang selalu asal booming. Sedangkan berhitung resiko ke depan datangnya selalu terlambat.
”Sebaiknya berpijak pada kepentingan masyarakat lebih luas dengan selalu menjaga kondusivitas kota,” kata Oji.
Lain lagi pendapat Ketua Komisi D Achmad Nugraha. Dia menyatakan, Bus Sekolah gratis tidak tepat sasaran, sebab mengangkutnya tidak sampai sekolah.
Selain itu, sejauh ini tidak pernah ada koordinasi yang jelas dalam memferivikasi kendaraan tersebut.
”Kajian bus sekolah itu, harus ada dong, minimal melalui telaahan,” tegas pria yang akrab dipanggil Amet tersebut.
Lebih dari itu, Amet mengesalkan, kehadiran Bus Sekolah tidak pernah melibatkan DPRD.
Menurutnya, bukan bermaksud ingin selalu diajak, tetapi ini menyangkut hajat hidup, minimal diajak untuk progres. ”Jangan seperti ini, tiba-tiba sudah berjalan saja. Sementara, di luar sana ada warga yang menjerit terdampak kebijakan itu. Dan yang katempuhan tetap kita,” tandas Amet.
