oleh

Ajak Kolaborasi Pelaku Ekonomi

Dia menerangkan bahwa laju ekonomi di Bandung akan semakin meningkat apabila pelayanan transportasi juga semakin baik. Menurut dia, Kota Bandung sebagai kota wisata kondisinya berbeda dengan Bali dan Yogyakarta, kota yang juga sering disinggahi oleh pelancong. Perbedaannya terletak pada penggunaan transportasi di dalam kota.

”Kalau di Yogya atau Bali jarang orang bawa mobil sendiri. Pasti ke Yogyanya naik kereta atau pesawat, di sana mereka melakukan upaya transportasi sendiri. Ke Bali juga sama. Kalau ke Bandung sebaliknya, kalau ke Bandung dominasinya naik mobil,” jelasnya. Hal ini kemudian berpengaruh terhadap meningkatnya volume kendaraan sehingga terjadi kemacetan. Hal inilah yang kemudian turut menjadi keluhan wisatawan karena tingkat kenyamanan dalam berwisata menurun.

Emil menjelaskan, bahwa pengerjaan proyek kereta cepat ini seluruhnya akan dibiayai oleh APBN. Maka dari itu, proses lelang yang saat ini sedang berlangsung kemungkinan akan dihentikan.

”Karena semuanya diambil alih oleh negara, oleh APBN, kemungkinan akan ditunda atau dihentikan,” tambah Emil.

Rencananya, pemerintah akan memulai proyek pengadaan LRT dan cable car tersebut dengan membuka Koridor I. Stasiun-stasiun akan ditempatkan di beberapa titik yang saling berintegrasi antara stasiun LRT dan stasiun cable car. Titik-titik tersebut antara lain Gelap Nyawang (PDAM), Cihampelas, Sukajadi (PVJ), Setiabudi (terminal Ledeng), Punclut, Ir. Juanda (Terminal Dago), dan Simpang Dago.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.