Menurut cucu ke-7 J.S. Badudu Ananda Badudu, pihak keluarga sangat kehilangan sosok yang bersahaja. ”Opa meninggal di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, pada hari Sabtu (12/3) pukul 22.10,” katanya.
Menurutnya, dua hari sebelum wafat, J.S. Badudu sempat dirawat inap di RSHS karena serangan stroke. Selama 10 tahun belakangan, J.S. Badudu sudah beberapa kali diserang stroke ringan maupun berat yang mengakibatkan kondisi fisiknya semakin lama semakin menurun. Tepat di usia 89 tahun J.S. Badudu meninggal karena komplikasi penyakit yang diderita semasa tuanya.
Menurut Ananda, sebelum menjadi dosen, J.S. Badudu telah 8 tahun menjadi guru SD, 4 tahun guru SMP dan 10 tahun guru SMA. Kemudian, almarhum merupakan orang pertama yang mendapat gelar Guru Besar dari fakultas Sastra Unpad pada 1985 dalam usia 59 tahun.
Baca Juga:Rendam 17 Daerah, Dua Orang Tewas, Tiga lainnya HilangAstrid Satwika Rajin Bacakan Buku
”Opa telah menjadi guru sejak usia 15 tahun dan mengakhiri pengabdiannya di bidang pendidikan pada usia 80 tahun, itu pun karena kondisi fisik yang terus menurun seiring bertambahnya usia,” jelasnya.
Sebelum upacara pelepasan, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, sempat menghadiri salat jenazah J.S. Badudu . ”Almarhum merupakan guru kita semua, pasti kita semua terutama warga Bandung merasa kehilangan,” tutur Ridwan Kamil.
Pria yang akrab dipanggil Emil ini mengatakan, tiga hal yang tidak akan hilang saat meninggal dalam Islam. Salah satunya ilmu yang bermanfaat. Insya Allah, kata dia, ilmu dan pengetahuan J.S. Badudu akan terus bermanfaat bagi generasi penerus. ”Walaupun sudah berpulang akan menjadi amal ibadah bagi beliau,” ucapnya.
Sebagai catatan, pria kelahiran Gorontalo pada 1926, telah terlebih dahulu ditinggalkan oleh istrinya Eva Henrietta pada 16 Januari 2016. Saat ini, J.S. Badudu meninggalkan 9 anak, 9 menantu, 23 cucu, dan 2 cicit.
J.S. Badudu dikenal masyarakat luas sejak ia tampil dalam acara Pembinaan Bahasa Indonesia yang ditayangkan di TVRI pada 1977-1979, dilanjutkan tahun 1985-1986. Pada saat itu TVRI adalah satu-satunya siaran televisi di Indonesia.
Beberapa karya besar di antara puluhan buku yang pernah ditulisnya: Kamus Umum Bahasa Indonesia (1994), revisi kamus Sutan Muhammad Zain; Kamus Kata-kata Serapan Asing (2003); Pelik-pelik Bahasa Indonesia (1971); Inilah Bahasa Indonesia yang Benar (1993); Kamus Peribahasa (2008); Membina Bahasa Indonesia Baku (1980) dll.
