bandungekspres.co.id– Ekonomi biaya tinggi yang harus ditanggung pelaku usaha tidak hanya disebabkan minimnya infrastruktur dan berbelitnya regulasi. Faktor lain yang tidak kalah besar pengaruhnya adalah suku bunga perbankan yang tinggi.
Staf Khusus Wakil Presiden Bidang Ekonomi dan Keuangan Wijayanto Samirin mengatakan, faktor-faktor pemicu ekonomi biaya tinggi itulah yang kini terus dicarikan solusi melalui berbagai paket kebijakan ekonomi. ”Khusus untuk suku bunga perbankan, pemerintah akan mengambil langkah-langkah strategis,” ujarnya kemarin.
Menurut Wijayanto, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengidentifikasi bahwa salah satu penyebab masih tingginya suku bunga perbankan di Indonesia adalah inefisiensi yang salah satunya tecermin dari tingginya net interest margin (NIM).
Baca Juga:Gladiator Roma Ancam MadridKarena Bonggol Jagung pun Bisa Jadi Kerajinan
NIM adalah selisih antara suku bunga simpanan yang dibayarkan bank kepada deposan dan suku bunga kredit yang dibebankan bank kepada debitor. ”Mudahnya, jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, NIM perbankan Indonesia paling tinggi,” kata mantan direktur eksekutif Paramadina Public Policy Institute (PPPI) tersebut. Dengan NIM yang tinggi, Indonesia adalah pasar yang paling diidamkan perbankan mancanegara. Sebab, memutar uang nasabah di Indonesia menjanjikan keuntungan (cuan) terbesar.
Sebagai gambaran, NIM perbankan Indonesia per akhir 2015 rata-rata berada di kisaran 5,39 persen. Angka itu jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan NIM perbankan di kawasan ASEAN. NIM perbankan Indonesia juga lebih tinggi daripada NIM perbankan negara-negara maju lainnya (lihat grafis). ”Bahkan, Bloomberg (media internasional yang banyak mengulas ekonomi dan keuangan, Red) pernah menulis kalau NIM perbankan di Indonesia salah satu yang tertinggi di dunia,” kata Wijayanto yang sebelumnya lama berkarir sebagai investment banker.
Menurut Wijayanto, wajar jika dalam beberapa kali kesempatan, Presiden Jokowi maupun Wapres JK bersuara cukup keras dalam menyikapi tingginya bunga perbankan di Indonesia. Sebab, selama ini kredit perbankan memang mendominasi sumber pendanaan pelaku usaha jika dibandingkan dengan akses lain melalui pasar modal, baik saham maupun obligasi. ”Artinya, tingginya suku bunga kredit menjadi beban bagi pelaku usaha,” ucapnya.
