JABAR EKSPRES – Sejumlah massa dari gabungan mahasiswa di Jatinangor, Kabupaten Sumedang melaksanakan long march dan menampilkan beberapa teatrikal dalam menyampaikan aspirasi pada aksi May Day 2026.
Melalui pantauan Jabar Ekspres, terlihat sang orator aksi berdiri di atas mobil komando. Lagu-lagu perlawanan dinyanyikan, oasi-orasi disuarakan.
Aksi long march yang dilakukan terpantau menutupi akses jalan, sehingga kendaraan dari arah Sumedang menuju Bandung mengalami kemacetan.
Baca Juga:Ratusan Buruh Kota Bogor Bertolak ke Monas Jakarta Peringati May Day 2026 Jelang Long Weekend May Day, 2026 Satlantas Polrestabes Bandung Siapkan Skema Rekayasa Lalin
Long march diawali dari Tugu Kampus Universitas Padjajaran (Unpad) Jatinangor, memutar hingga aksi berkumpul di pangkalan bus tepatnya di lajur satu arah, jalan penghubung Bandung-Cirebon.
Ketua BEM KM Fakultas Pertanian Unpad, Fathan Zaky Al Ghifari mengatakan, dalam aksi May Day 2026 ini, sekira ratusan mahasiswa dari kampus gabungan mengutarakan atau menuntut hak-hak buruh.
“Seperti cuti hamil, cuti melahirkan dan juga tuntutan-tuntutan terkait hak-hak buruh yang dimana saat ini belum ada standarisasi,” katanya saat diwawancara di lokasi, Jumat (1/5/2026).
Zaky memaparkan, pihaknya pun cukup mendalami terkait hukum kesejahteraan buruh tani, sebab menurutnya jika membahas buruh maka bukan sebatas pekerja pabrik, tapi buruh tani pun perlu diperhatikan.
“Karena kita lupakan bahwa hari buruh ini identik dengan hari buruh pabrik, padahal di luar sana banyak juga buruh-buruh tani yang dimana hak-haknya belum tersampaikan dengan baik,” paparnya.
Zaky menerangkan, kesejahteraan dalam memenuhi hak-hak buruh tani dinilai penting, sebab penghasilan mereka selain rendah juga bisa terancam oleh cuaca ekstrem.
“Karena bisa dibilang pertani itu orang kaya tetapi ketika pertani gagal panen, ketika lahannya gagal dia masih bisa menjual lahan,” terangnya.
Baca Juga:Irigasi Ciramajaya Tak Berfungsi, Wabup Tasikmalaya Janji Perjuangkan Revitalisasi Diserbu 22 Ribu Kendaraan, Arus Balik Puncak Bogor Diberlakukan One Way Siang Ini
“Tetapi buruh tani, ketika penghasilannya dia tidak punya lahan, ketika hasil panennya gagal dia tidak ada penghasilan apa-apa lagi,” lanjut Zaky.
Oleh sebab itu, dia bersama rekan-rekannya sempat melakukan survei terhadap penghasilan rata-rata para buruh tani.
“Survei itu sekitar Rp50 sampai Rp100 ribu buruh tani. Kita ingin melaksanakan hak tersebut terkait standarisasi buruh tani, dan juga buruh secara jeneral,” pungkasnya. (Bas)
