Awalnya Diragukan, Kini Tampung 57 Siswa

Miftahul Khoiriah
Miftahul Khoiriah
0 Komentar

Faktor lain, Miftah dan sang suami sama-sama berasal dari keluarga kurang berada. Jadi, mereka sudah merasakan sendiri betapa sulitnya mendapatkan pendidikan yang layak.

Kegigihan Miftah itu akhirnya membuahkan hasil. SMP Islam yang diberi nama sesuai dengan namanya, Miftahul Khoiriah, resmi didirikan pada 22 Maret 2013. Miftah memilih mendirikan SMP karena di desanya sudah ada tiga SD. Tak jauh dari desanya juga ada dua SMK yang tergolong favorit di Mojokerto.

Bangunan SMP Islam Miftahul Khoiriah itu berdiri di atas tanah wakaf dari orang tua Miftah seluas 500 meter persegi. Sekitarnya dikelilingi sawah dan rawa-rawa bekas galian batu bata. Memang banyak warga Desa Beloh yang bekerja sebagai perajin batu bata. Desa tersebut terletak sekitar 2 kilometer ke arah timur dari Pemandian Segaran, salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit.

Baca Juga:Gayus Bebas Makan di RestoranNyaris Hantam Mobil dan Timpa Rumah

Tak sepeser pun murid yang bersekolah di sana ditarik biaya. Baik untuk uang gedung, SPP, seragam, maupun LKS (lembar kerja siswa). ’’Untuk pembangunan gedung dan fasilitas anak-anak, baik buku, seragam, maupun biaya operasional, murni dari donatur dan bantuan dari BOS (biaya operasional sekolah),’’ ungkap Miftah yang juga menjadi wakil kepala sekolah.

Jumlah siswa kini telah mencapai 57 orang yang terdaftar, mulai kelas VII hingga IX. Setiap tingkat terdiri atas satu kelas. Mereka diasuh 14 guru, termasuk Miftah yang mengajar matematika serta Hendra, sang kepala sekolah, yang mengampu PPKn dan bahasa Inggris.

Menurut Hendra, para guru yang mengajar di sekolah khusus anak yatim dan dari keluarga tidak mampu itu lebih banyak bersifat sukarela. Sebab, mereka hanya disangoni uang bensin. ’’Tapi, rata-rata puas dan senang karena bisa membantu sesama,’’ katanya.

Dengan segala kesederhanaan itu, toh SMP Islam Miftahul Khoiriah tetap bisa mencatat prestasi. Andy Maulana, siswa kelas VIII, misalnya, baru saja menjadi juara ketiga kompetisi silat se-Kabupaten Mojokerto. Ada pula Wahyu dan Muntaha, keduanya siswa kelas IX, yang prestasi akademiknya bagus. ’’Kalau melihat anak-anak seperti Wahyu dan Muntaha, lega sekali. Rasanya perjuangan kami tidak sia-sia,’’ ungkap Miftah.

0 Komentar