oleh

Kualitas Udara Bandung Turun

[tie_list type=”minus”]Akibat Lonjakan Jumlah Kendaraan[/tie_list]

SUMUR BANDUNG – Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jawa Barat terus memantau kualitas keasrian lingkungan di beberapa kota metropolitan. Pemantauan ini termasuk, luas lahan hijau di tiap kawasan, hingga kualitas udara.

POLUTAN
FAJRI ACHMAD NF/BANDUNG EKSPRESLAJU TERHAMBAT: Sejumlah kendaaran terjebak macet satu arah yang terjadi di Jalan Raya Padalarang. Jalan di Bandung seringkali macet, karena volume kendaraan bertambah.

Berdasarkan data BPLHD Jabar, kualitas udara di Kota Bandung menurun secara drastis. Data tahun 2013 menyebut, Bandung mendapat posisi pertama sebagai kota metropolitan terbersih. Namun, Bandung bergeser ke posisi 6 pada tahun 2014. Seiring bertambahnya aktivitas industri, kendaraan dan lain-lain, udara di Bandung tidak lagi asri.

’’Kualitas udara di Kota Bandung semakin buruk, terutama saat akhir pekan karena terjadi lonjakan jumlah kendaraan,’’ ujar Kepala BPLHD Jabar Anang Sudarna kepada wartawan di kantornya, Jalan Naripan, Kota Bandung, kemarin (25/5).

BPLH Jabar mencatat, penambahan beban karbonmonoksida (CO) di akhir pekan mencapai 2.500 Kg per hari. Selain itu, berdasarkan penelitian ITB, kadar timbal dalam darah dari anak-anak telah mencapai 46 persen. Angka ini sudah melebihi standar WHO yang hanya 10 persen. BPLH memantau polutan di Kota Bandung di tiga titik, yakni Jalan Pajajaran, BKR dan Soekarno Hatta.

Selain karena lonjakan jumlah kendaraan di akhir pekan, polusi di Kota Bandung makin buruk akibat kondisi kepadatan lalu lintas. Kemacetan semakin sering terjadi akibat jumlah kendaraan semakin banyak, sementara lebar dan panjang jalan sangat terbatas.

Fakta lain menyebutkan, polusi semakin parah akibat topografi dan geografi Kota Bandung yang berupa cekungan. Kondisi tersebut membuat udara buruk sulit untuk dihempaskan angin. ’’Sebenarnya Kota Bandung berbahaya untuk tempat tinggal. Karena posisi Bandung yang cekung, maka oksigen tidak terbawa angin, malah ngulibek,’’ ucap Anang.

Melihat kondisi tersebut, pihaknya akan memasang alat pantau polusi di kota-kota besar di Jabar seperti Bandung, Bekasi, dan Bogor. Alat tersebut bernama Air Quality Monitoring System (AQMS).

Melalui pemasangan alat ini, Anang berharap tingkat polusi bisa terus dipantau dan dapat segera melakukan antisipasi jika kondisi udara semakin buruk. ’’Polusi tinggi sangat berbahaya, bisa menimbulkan hujan asap,’’ pungkas dia. (fie/tam)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga