Ditanya mengenai fenomena Jokowi Effect yang banyak disebut-sebut pada awal periode pemerintahan Jokowi – JK, Sofyan menyatakan jika Jokowi Effect itu masih ada. Dia menyebut, masyarakat masih percaya bahwa pemerintah serius melakukan reformasi struktural di segala bidang. ’’Tapi, itu memang butuh waktu, tidak bisa dicapai dalam waktu dekat, jadi beri cukup waktu untuk pemerintah bekerja,’’ ucapnya.
Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Bahlil Lahadalia menilai pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla lebih sibuk melakukan efisiensi dan pengetatan anggaran daripada mencari solusi bagaimana memacu produktivitas. ’’Misalkan melarang rapat di hotel-hotel tapi tidak memberikan solusi bagaimana supaya okupansi hotel-hotel tersebut meningkat,’’ ujarnya.
Di sisi lain, ia mengapresiasi upaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam mengatasi pencurian ikan. Namun sayangnya belum ada solusi untuk meningatkatkan produktivitas di sektor maritim. ’’Industrinya belum dipikirkan bagaimana supaya ikan yang melimpah ini segera membawa dampak bagi perekonomian. Jangan hanya didiamkan begini saja,’’ ungkapnya.
Baca Juga:Tak Ingin KecolonganPemkab Akan Relokasi PKL
Masalah lainnya adalah minimnya penyerapan anggaran belanja pemerintah. Dia mencontohkan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sekarang banyak yang mengendap karena kepala daerah dan dinas-dinas sebagai kuasa anggaran takut menghadapi kriminalisasi. ’’Tidak ada pihak yang berani mengambil keputusan, karena minimnya perlindungan hukum,” ungkapnya.
Rendahnya penyerapan anggaran menyebabkan konsumsi barang-barang industri menurun. Dampaknya pertumbuhan industri hampir di semua sektor usaha mengalami kontraksi. Padahal perekonomian nasional masih sangat tergantung pada sektor konsumsi. ’’Para menteri lupa bahwa konsumsi itu yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, kok malah direm,’’ tukasnya.
Sebagai solusinya, dia meminta pemerintah segera merealisasikan anggaran belanjanya di kuartal kedua tahun ini. Dengan begitu roda perekonomian bisa kembali bergerak. ’’Sektor konsumsi masih perlu digenjot untuk menyelamatkan perekonomian mengingat industri dan manufaktur masih sangat lemah, belum sanggup menopang perekonomian agar menjadi kuat,’’ imbuhnya. (ken/owi/wir/rie)
