Namun, Kokom menambahkan, dengan meningkatnya impor barang konsumsi menunjukkan bahwa geliat industri nasional belum terlalu pulih meski ada tren meningkat dibandingkan dengan tahun lalu. ”Pemerintah harus memberikan dorongan kepada pengusaha agar industri lebih bertumbuh. Jika impor makin tinggi dan masyarakat lebih memilih produk impor, produsen akan beralih menjadi importir,” beber dia.
Serbuan produk dari Tiongkok atau luar negeri telah mengancam produk lokal yang harganya lebih mahal. Jika hal ini berlangsung terus-menerus, maka industri lokal bisa kolaps. Produk negara Indonesia sendiri pun sulit bersaing dengan masuknya produk Tiongkok. Sulit mencari win-win solution dari perjanjian. Bahkan, mungkin yang ada win-lose karena produk nasional mirip dengan produk yang diproduksi Tiongkok. Kondisi ini membuat produk Indonesia kalah bersaing, apalagi barang tersebut memiliki kualitas yang hampir sama.
Kekhawatiran pelaku bisnis terhadap pelaksanaan perjanjian perdagangan bebas ASEAN-Tiongkok Free Trade Agreement (ACFTA) terus menghantui. Sementara masyarakat (calon konsumen) tidak sekedar melihat harga yang murah. Namun, juga memilih kualitas dari produk Negeri Tirai Bambu tersebut.
Baca Juga:Harus Tingkatkan KualitasHarga Alasan Utama
Harus diakui bahwa produk Tiongkok harganya lebih murah dibandingkan produk impor lainnya. Seperti, dari negara Jepang, Amerika, Eropa, dan negara lainnya. Khusus di bidang elektronik. (kha/tam)
[divider style=”dotted” top=”20″ bottom=”20″]
