oleh

Bosscha Siap Buka Museum Astronomi

[tie_list type=”minus”]Jadi yang Pertama di Indonesia[/tie_list]

LEMBANG – Museum astronomi pertama di Indonesia bakal berdiri di kawasan Observatorium Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Mulai dicetuskan oleh para peneliti Institut Teknologi Bandung sejak 2007, museum tersebut diharapkan bakal mulai dibuka pada tahun ini.

BOSCHAKepala Observatorium Bosscha Mahasena Putra mengungkapkan, museum itu bakal memuat berbagai koleksi peralatan observasi yang pernah digunakan di Bosscha. Kelak, para pengunjung pun akan dapat merunut perkembangan astronomi di Indonesia dari masa ke masa.

”Selama ini kan pengunjung sudah banyak sekali yang datang, tapi mereka hanya melihat teleskop besar di kubah dan menyaksikan pertunjukan multimedia. Teman-teman terpikirkan, peralatan kuno Bosscha ditampilkan saja, biar pengetahuan pengunjung semakin bertambah,” kata Seno, panggilan Mahasena Putra.

Baca Juga:  Bamsoet Apresiasi Langkah Sean Gelael di FIA World Endurance Championship 2021

Menurut dia, museum tersebut akan menjadi museum astronomi, bahkan museum sains, pertama di Indonesia. Walaupun peralatan-peralatannya sudah berusia puluhan tahun, Seno menuturkan, sejumlah peralatan masih bisa digunakan.

”Seperti teleskop unitron, itu masih bisa digunakan untuk mengamati fase bulan, permukaan bulan, ataupun mengamati matahari. Akan tetapi, kami sudah tidak memakainya lagi, karena saat ini sudah ada alat yang modern,” tuturnya.

Staf Observatorium Bosscha, Yatni Yulianti membeberkan, total ada sekitar 40 benda yang akan dipamerkan di musemum astronomi. Di samping sembilan miniatur teleskop, ungkap dia, dipajang pula peralatan astronomi yang lain seperti sensitometer, astrophotometer, stereokompator, microphotometer, chronograph, measuring engine, teleskop secretan dan teleskop unitron.

Baca Juga:  Menko Airlangga Optimis Ekonomi Triwulan II-2021 Tumbuh 6,9 Persen-7,8 Persen

”Yang paling tua sepertinya teleskop secretan, itu buatan tahun 1884. Teleskop itu dulu punya pengusaha di Padang. Saat mendengar observatorium astronomi besar akan dibangun di Lembang, dia lalu menyumbangkan teleskopnya,” jelas Yatni.

Dia menambahkan, museum yang akan ditempatkan di Rumah J Observatorium Bosscha itu juga menampilkan instrumen-instrumen lainnya yang pernah digunakan di Bosscha. Di antaranya ialah telefon, jam, dan kalkulator antik. ”Untuk dokumen-dokumen yang akan ditampilkan, kami selektif, kecuali foto-foto,” sebutnya.

Baca Juga:  Kasus Covid-19 di Cimahi Meningkat, PPKM Mikro Diperpanjang

Mahasiswi pascasarjana ITB itu mengungkapkan, pembukaan museum astronomi itu masih menunggu kelengkapan data dan informasi untuk dipaparkan bagi para pengunjung. Menurut dia, pendataan itu cukup memakan waktu karena data yang dipaparkan harus akurat.

”Itu yang susah. Buatan kapan, masa pakainya kapan, hasilnya apa, atau mengapa sudah tidak dipakai lagi, harus ada penjelasannya. Soalnya, kami ingin menceritakan aspek sejarah astronomi di Indonesia. Pada masa tertentu, apa yang bisa dilihat oleh teropong apa, atau bagaimana teropong yang satu bisa berkembang menjadi teropong yang lainnya,” paparnya. (rls/asp)

Baca Juga


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga