37

Wahid Disogok Sandal dan Tas

Kalapas Terancam 20 Tahun Penjara

BANDUNG -Mantan Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Sukamiskin Bandung, Wahid Husen, diduga melakukan tindak pidana korupsi atas dugaan suap yang diterima dari warga binaan. Dalam sidang perdananya Wahid dikenai pasal yang berbeda dalam dakwaan primair dan subsidair Undang-Undang tindak pidana korupsi.

Dalam dakwaan primair, Wahid Husen melakukan tindakan pidana korupsi (tipikor) sebagaimana diatur dalam Pasal 12 huruf b Undang-Undang pemberantasan tindak pidana korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 dan Pasal 65 ayat 1 KUHP.

Dakwaan dibacakan tiga Jaksa Penuntut Umum KPK salah satunya Trimulyono Hendradi di ruang sidang tipikor Pengadilan Negeri (PN) Bandung, kemarin (5/11).

Dalam dakwaannya menyebutkan, terdakwa dengan Hendry Saputra (penuntutan terpisah) telah melakukan atau turut serta melakukan beber­apa perbuatan yang harus di­pandang sebagai perbuatan berdiri sendiri-sendiri sehing­ga merupakan beberapa keja­hatan, selaku pegawai negeri atau pejabat Negara.

”Yakni menerima hadiah se­jumlah uang dan barang dari warga binaan (narapidana) lapas Sukamiskin. Sebagian besar hadiah itu diterima ter­dakwa melalui Hendry Saputra yang berperan sebagai staf dan sopir pribadinya,” katanya.

Terdakwa Wahid menerima hadiah dari beberapa warga binaan, dari Fahmi Darma­wansyah satu unit mobil dou­ble cabin 4×4 Mitsubishi Tri­ton, sepasang sepatu boot, sepasang sandal merek Ken­zo, sebuah tas clutch bag me­rek Luis Vuitton dan uang total Rp 39.500.000.

Fahmi selama di lapas menda­pat fasilitas istimewa, seperti kamar ber ac dilengkapi televisi dengan jaringan tv kabel, kelelu­asaan menggunakan ponsel, hinga memiliki kamar khusus untuk berhubungan intim. Ba­hkan, kamar tersebut dikomer­silkan untuk warga binaan dengan tarif Rp 650 ribu.

Kemudian dari Tubagus Chaeri Wardhana alias Wawan berupa uang dengan total Rp 63.390.000, dan dari Fuad Amin Imron berupa uang dengan total Rp 71 juta, dan fasilitas peminjaman mobil Toyota Innova, serta dibayari menginap selama dua malam di Hotel Ciputra 2 Surabaya.

Selama di Lapas Sukamiskin, Wawan mendapatkan izin luar biasa (ILB) bahkan bebe­rapa kali dia keluar lapas untuk menginap di hotel berbintang ditemani wanita. ”Seharusnya patut diduga bahwa sejumlah hadiah itu diberikan lantaran mereka sebagai warga binaan telah mendapatkan berbagai fasilitas istimewa di Lapas Su­kamiskin,” ujarnya.

Kasus dugaan suap tersebut berawal sekitar Maret 2018, terdakwa mengumpulkan seluruh warga binaan Lapas dalam rangka memperke­nalkan dirinya sebagai Ka­lapas baru menggantikan Dedi Handoko. Kemudian dilakukan pertemuan khu­sus di ruangan terdakwa di lantai dua dengan paguyuban narapidana tindak pidana korupsi.

Saat pertemuan itu, paguyuban narapidana tindak pidana ko­rupsi diwakili mantan Kakorlan­tas Mabes Polri Djoko Susilo, Fahmi Darmawansyah, Tubagus Chaeri Wardana, dan Fuad Amin Imron. ”Intinya dalam perte­muan tersebut meminta ter­dakwa memberikan ‘kemu­dahan’ bagi narapidana tipi­kor untuk izin keluar lapas,” ujarnya.

Adapun izin yang dimaksud para warga binaan tersebut, yakni baik itu ILB ataupun izin berobat ke rumah sakit. Ke­mudian semua permintaan para warga binaan korupsi itu diamini oleh terdakwa.

Kemudian, lanjutnya, terdak­wa pun sebagai Kalapas Suka­miskin mengetahui beberapa warga binaan Tipikor menda­patkan fasilitas istimewa.

”Meski mengetahui beber­apa warga binaan memiliki fasilitas istimewa dan kemu­dahan izin keluar, tapi ter­dakwa membiarkannya. Ba­hkan terdakwa pun menerima hadiah melaui Hendry Saputra dari warga binaan sebagai ganti fasilitas istimewa dan kemudahan izin keluar ter­sebut,” ujarnya.

Usai menjalani sidang dak­waan, mantan Kalapas Suka­miskin Wahid Husein tidak mengajukan eksepsi. Kuasa hukum Wahid menilai eksepsi hanya memperlambat waktu.

”Secara formil kami mene­rima dakwaan. Eksepsi hanya memperlambat waktu saja, sehingga lebih bagus langsung ke pembuktian,” kata salah seorang kuasa hukum Wahid Husein, Firma Uli Silalahi usai persidangan.

Sementara soal dakwaan JPU, Firma mengaku semua harus dibuktikan di persi­dangan. Sebab, berkas dak­waan itu merupakan susunan dari berkas acara pemeriksa­an (BAP) yang dilakukan penyidik selama proses penyi­dikan berlangsung.(ziz/ign)

SUAP YANG DITERIMA WAHID

FAHMI DARMAWANSYAH

  • Double Cabin Mitsubishi Triton
  • Sepasang sepatu boot
  • Sandal Kenzo
  • Tas clutch bag Louis Vuitton
  • Terima Uang Rp 39,5 juta

TUBAGUS CHAERI WARDHANA ALIAS WAWAN

  • Terima Uang Rp 63,3 juta.

FUAD AMIN IMRON

  • Terima Uang Rp 71 juta
  • Fasilitas pinjaman mobil Toyota Innova
  • Menginap 2 Malam di hotel di Surabaya
Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.