JABAR EKSPRES – Wakil Ketua DPRD Jawa Barat MQ Iswara turut merespons terkait beberapa kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Jawa Barat. Peristiwa tersebut tak boleh terulang, sehingga mitigasinya perlu diperkuat.
Politikus Partai Golkar itu menjelaskan, ia sebenarnya sudah sempat mengingatkan sebelum beberapa kejadian kebakaran di Jawa Barat. seperti di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kabupaten Kuningan hingga Gunung Putri Garut.
“Kami sudah bicara itu sebelum terjadi. Saya sampaikan hati-hati. Misalnya untuk kawasan di Gunung Gede, Gunung Pangrango, Gunung Manglayang, Gunung Tangkuban perahu, Gunung Burangrang dan Gunung Bukit Tunggul, karena masih terjadi pembukaan lahan,” cetusnya.
Baca Juga:DPR Desak BPK Evalulasi WTP Kemenhut, Ada Potensi Kerugian Negara hingga Rp104 Triliun!Siapkan Fasilitas Penyimpanan Minyak Mentah di Dalam Negeri, Bahlil: Ini Survival Mode
Ataupun kasus di Garut yang biasanya kawasan hutan dibuka untuk kegiatan tambang. Perubahan fungsi kawasan hutan tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah daerah, karena berpotensi meningkatkan kerentanan lingkungan, termasuk risiko karhutla.
Namun demikian, Iswara cukup mengapresiasi langkah sigap Pemprov dalam menangani kebakaran. Contohnya di Gunung Ciremai.
Berdasarkan laporan data, jumlah titik panas Gunung Ciremai yang semula mencapai 13 titik kemudian berkurang menjadi enam, tiga, hingga akhirnya mulai menghilang.
“Kami mengapresiasi tindakan Pak Gubernur yang begitu cepat turun ke Ciremai dan langsung menangani ke titik lokasi,” cetusnya, Jumat (30/10/2026).
Meski demikian, Iswara mengingatkan penanganan karhutla tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah provinsi. Kepala daerah di tingkat kabupaten dan kota kata dia, harus aktif memantau kondisi lingkungan, terutama kawasan hutan dan lahan yang rawan terbakar.
Menurut dia, mitigasi harus dilakukan sejak dini agar kebakaran tidak meluas dan penanganannya tidak selalu menunggu munculnya titik api. “Semoga lebih dimitigasi, sehingga tak terulang lagi,” katanya. (son)
