Sementara itu, di usia 39 tahun, Prof. Dr. Fajar Cipta, S.Ds., M.Ds. menjadi salah satu guru besar muda di bidang seni rupa dan desain. Akademisi kelahiran Bandung, 6 Desember 1986, ini dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Tradition-Based Product. Ia memilih jalan berbeda: bukan duduk di balik meja, melainkan merangkul denyut nadi masyarakat perajin.
Bagi banyak orang, inovasi produk tradisional sering disederhanakan menjadi urusan kemasan atau desain permukaan. Bagi Prof. Fajar, esensinya justru terletak pada ekosistem. “Kalau kita ngelihat desain sama packaging dan lain sebagainya itu permukaan sekali sih… karena esensi utamanya dari produk tradisional itu adalah ekosistemnya dulu,” katanya.
Kisah risetnya berpusat di Desa Kerak, Tuban, Jawa Timur, yang dijadikan living lab community-based research sejak 2018. Tantangan terbesar bukan pemasaran, melainkan membangun kepercayaan dan menghidupkan kembali ekologi yang hampir sekarat. Pohon kapas dan pewarna indigo nyaris punah, padahal perajin lokal masih mempertahankan batik gedok dari hulu ke hilir-menanam kapas, memintal, menenun, hingga membatik secara tradisional.
Baca Juga:Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Kosasih Raih KNPI Award 2026Perwal Pesantren Segera Terbit, DPRD Bandung Sebut Kado Hari Santri 2026
Prof. Fajar menerapkan inovasi endogen: masyarakat menjadi subjek, bukan objek. Tiga tahun pertama dihabiskan untuk membangun kedekatan emosional. Banyak perajin merasa menenun adalah pekerjaan lambat, berupah murah, dan tak bernilai. Ia memperkenalkan metode afirmasi. “Biar mereka tuh bangga dulu sama apa yang mereka kerjain, di luar sana banyak yang suka loh kain-kain kamu,” kenangnya.
Hasilnya berbuah manis. Batik gedok yang dulu hanya berputar di pasar lokal kini merambah Jakarta dan menembus ekspor ke Singapura melalui jenama besar. Produk pun meluas ke ranah interior. Hampir tujuh tahun riset membuktikan bahwa tradisi luhur tak akan lekang oleh zaman asalkan disentuh dengan ketulusan, kolaborasi, dan ekosistem yang sehat. (bbs)
