JABAR EKSPRES – Pemerintah mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 untuk mempercepat investasi dan memperkuat aktivitas sektor produktif guna mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen.
Strategi tersebut akan ditempuh melalui percepatan belanja produktif, pemberian insentif, serta penguatan kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha.
Direktur Strategi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Wahyu Utomo mengatakan, pemerintah tetap optimistis terhadap prospek perekonomian nasional meskipun ketidakpastian global masih membayangi pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga:ASUS Hadirkan ASUS ProArt P14 dan P16, Laptop Kreator dengan NVIDIA RTX Spark™ Pertama di IndonesiaEmas Digital di Indonesia Kian Diminati, Potensi Pasar Global Tembus US$700 Miliar
“Waspada harus, panik jangan. Tetap optimistis, tapi optimismenya harus realistis,” ujar Wahyu dikutip dari ANTARA, Rabu (21/10).
Menurut Wahyu, pencapaian target pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan stabilitas makroekonomi. Pemerintah juga perlu memastikan kebijakan fiskal mampu menciptakan dorongan nyata bagi investasi, konsumsi rumah tangga, dan peningkatan produktivitas nasional.
Di tengah ketidakpastian arah suku bunga Amerika Serikat, fluktuasi harga energi, dan perubahan perdagangan global, Indonesia dinilai masih memiliki sejumlah modal domestik untuk mempertahankan momentum pertumbuhan.
Indikator tersebut meliputi inflasi yang terkendali, surplus neraca perdagangan, cadangan devisa yang memadai, serta pertumbuhan kredit dua digit.
Kinerja fiskal juga menjadi salah satu penopang optimisme pemerintah. Hingga September, penerimaan negara tercatat tumbuh 25,5 persen, sementara belanja negara meningkat 19 persen. Pada periode yang sama, keseimbangan primer APBN mencatat surplus Rp125,5 triliun.
Wahyu menjelaskan, pemerintah akan memaksimalkan APBN sebagai instrumen untuk meredam gejolak ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan. Peran tersebut dijalankan melalui upaya menjaga daya beli masyarakat, mengendalikan stabilitas harga, dan mempercepat realisasi belanja yang memiliki dampak ekonomi langsung.
Meski demikian, percepatan belanja tetap harus dilakukan dengan mempertimbangkan kesinambungan fiskal agar stimulus ekonomi tidak mengganggu kesehatan anggaran negara.
Baca Juga:Pemerintah Diminta Evaluasi Insentif Pajak agar Tak Bebani Penerimaan NegaraHarapan Baru Warga Timbulsloko Demak: 10 Tahun Melawan Rob, Kini Jadi Percontohan Pemulihan Pesisir Pantura
Dalam mengejar pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027, pemerintah menyiapkan tiga pendekatan utama, yakni pragmatis, transformatif, dan diplomatis.
Pendekatan pragmatis difokuskan pada penguatan sumber pertumbuhan yang telah berjalan, terutama konsumsi rumah tangga dan investasi.
Pemerintah akan mendorong sektor manufaktur, perdagangan, dan pertanian sebagai bagian dari upaya meningkatkan produksi, memperluas kesempatan kerja, serta mempertahankan daya beli masyarakat.
