Keunikan Angkot Feeder DIY terletak pada tampilan luar yang dikreasikan bersama seniman dan warga. “Persoalan transportasi umum bukan hanya urusan seniman. Profesi apa pun harus terlibat kalau kita bicara ruang publik dan hak-hak masyarakat,” kata seniman Syaiful Aulia Garibaldi.
Dadang Hamdani, Ketua Umum Koperasi Kobanter Baru Jawa Barat, mendukung penuh gerakan ini. “Harapan kami, pemerintah benar-benar punya kemauan politik, komitmen, dan konsistensi memperbaiki transportasi umum di Bandung,” katanya.
Hingga peluncuran, lebih dari 100 pihak terlibat, mulai dari koperasi angkot, komunitas sipil, akademisi, mahasiswa, seniman, kreator konten, media, hingga swasta. Rekan strategis antara lain Bandung Bergerak, Arthatronic, Edan Sepur, Kobanter Baru, Kopamas, dan Transport for Bandung.
Baca Juga:Telkom Dukung Perbaikan 20 Rutilahu di Cileunyi Wetan Demi Hunian Layak dan BerkelanjutanPerdana di Bandung, 40 Drummer Main Serentak di Braga Citywalk
Abdullah Putra Gandhara atau Agha, Koordinator Daerah Edan Sepur Bandung, menekankan pentingnya peran komunitas. “Keterlibatan komunitas penting karena secara kolektif kita bisa mendorong dan mendesak pemerintah melalui advokasi. Ketika simpul transportasi terkoneksi-pemerintah, komunitas, warga, koperasi angkot, dan moda lain-masyarakat akan lebih terdorong menggunakan transportasi umum,” katanya.
Meskipun warga berhasil menghadirkan satu rute feeder secara mandiri, kunci keberlanjutan tetap di tangan Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung. Kerja sukarela warga tak bisa menggantikan peran dan tanggung jawab pemerintah yang memegang wewenang penuh atas kebijakan dan anggaran. Komitmen konkret diharapkan dimulai dari kepastian alokasi anggaran BRT dan angkot feeder dalam APBD.
Sepanjang 2026, Demokrasi Kita dan aliansi telah menjalankan serangkaian kegiatan: touchbase dengan DPRD Kota Bandung, audiensi LKPJ, Narrative Game 4 Angkot, Kiri Payun, hingga Temu Wargi: Menuju Transformasi Angkot. Dari proses tersebut lahir Cetak Biru Wargi untuk Transformasi Angkot sebagai rumusan bersama kebutuhan dan arah perbaikan.
Warga Kota Bandung tentu berharap pembenahan kemacetan dan mobilitas perkotaan ini tidak berhenti pada tatapan wacana belaka. Tanpa alokasi anggaran yang jelas dan berpihak pada publik, mimpi memiliki transportasi massal yang handal hanya akan berputar di tempat. (bbs)
