Bantah Daya Beli Melemah, Wamenko Ekonomi: Hanya Pergeseran Konsumsi

Bantah Daya Beli Melemah, Wamenko Ekonomi: Hanya Pergeseran Konsumsi
Ilustrasi transaksi jual beli di salah satu pasar tradisional Kota Bandung. Foto: Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kabar adanya penurunan daya beli masyarakat saat ini mendapat bantahan keras dari Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo.

Hal itu disampaikan olehnya dalam konferensi pers usai pertemuan dengan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti di Kantor BPS, Jakarta, Senin.

Menurutnya, daya beli masyarakat Indonesia saat ini tidak melemah, bahkan data statistik hanya menunjukkan terjadinya pergeseran pola konsumsi.

Baca Juga:Demokrat Jabar Tetap Kawal Anjar Asmara Menuju Wabup CiamisMenperin Soroti Kualitas SDM Guna Pacu Industri RI

“Yang terjadi itu bukan daya beli melemah. Nggak, sangat tidak betul. Yang terjadi adalah pergeseran pola konsumsi masyarakat yang sangat signifikan,” ujarnya, dikutip Selasa (13/10/2026).

Selain itu, kata dia, klaim tersebut juga didukung dengan data yang menunjukkan telah terjadinya pertumbuhan di sektor transportasi hingga pariwisata.

Di sektor transportasi, kata dia, BPS telah melaporkan bahwa jumlah penumpang angkutan domestik mengalami kenaikan 8,09 persen menjadi 2,70 juta penumpang sepanjang Agustus 2026.

Dari data tersebut, kenaikan tertinggi tercatat pada angkutan penyebrangan yang berada di angka 4,66 juta penumpang, atau naik sebesar 20,13 persen.

Kemudian di sektor pariwisata, laporan terakhir BPS menunjukkan pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) pada Agustus 2026 mencapai 104,30 juta perjalanan, naik sebesar 11,47 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada Agustus 2025.

“Transportasi itu tinggi sekali karena masyarakat kita rupanya sekarang banyak yang senang jalan-jalan, dan konsumsi jalan-jalan itu tinggi sekali. Restoran dan hotel juga. Turisme meningkat, pariwisata meningkat sekali,” ujar Wamenko Ekonomi.

Di sisi lain, transaksi menggunakan QRIS juga melonjak pesat. Berdasarkan laporan Bank Indonesia (BI), transaksi QRIS tumbuh tinggi mencapai 67,22 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Baca Juga:Pajak Royalti Penulis Buku Turun jadi 1,5 Persen Mulai Kapan?Bupati Cecep Proyeksikan APBD 2027 untuk Percepat Pembangunan Infrastruktur dan Penguatan Ekonomi Rakyat

“Kalau transaksi QRIS meningkat drastis, berarti memang banyak transaksi dan konsumsi,” kata Dradjad menambahkan.

Sama halnya, transaksi belanja pada platform daring juga menunjukkan peningkatan yang signifikan. Pernyataan ini juga didukung oleh Kepala BPS Amalia yang menyebut kecenderungan pola belanja masyarakat saat ini bergeser ke platform daring alih-alih belanja secara luring.

Namun, Wamenko Ekonomi dan Kepala BPS tidak merinci data terbaru peningkatan transaksi daring.

“Pergeseran konsumsi ini tertangkap oleh BPS, sehingga kami dari pemerintah meyakini bahwa memang daya beli masyarakat itu sangat bagus,” pungkasnya.

0 Komentar