JABAR EKSPRES — Di balik penampilannya yang rapi sebagai Anggota DPRD Jawa Barat, Zaini Shofari menyimpan rekam jejak panjang sebagai seorang Bobotoh tulen. Kecintaannya pada Persib Bandung bukan sekadar tren musiman atau komoditas politik, melainkan perjalanan emosional yang terpupuk sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu turut menyimpan kisah panjang dan unik saat mendukung tim kesayangan.
Beberapa kisah “kegilaan” Zaini terhadap Maung Bandung di Siliwangi. Stadion kondangan di tengah Kota Bandung yang dulu jadi kandang Persib.
Baca Juga:Renovasi Stadion Kaliki Dilanjutkan, Aktivis dan KONI Desak Standar PSSICegah Risiko Gempa, Rapid Indonesia, Semut Tangsel, dan IEA Edukasi Siswa PKBM Binar
Kala itu Zaini masih duduk di bangku sekolah dasar. Demi bisa menyaksikan klub kesayangannya bertanding di tribun VIP tanpa modal tiket, Zaini kecil punya jurus andalan. Yaitu jurus colek bapak – bapak.
Mulanya, ia berangkat naik angkot dari rumah di sekitar Cicaheum bersama sepupu. Setibanya di Siliwangi ia kemudian berpisah. Sepupunya nonton lewat Tribun Utara.
Sementara Zaini langsung datang ke pintu VIP. Ia kemudian mencari mangsa bapak – bapak agar bisa diajak masuk.
“Saya colek bapak-bapak. Saya bilang, ‘Pak, ngiring nonton, Pak’. Karena masih kecil, pasti diajak masuk dan malah sering dikasih snack,” kenang Zaini sembari tertawa.
Memasuki masa SMA di SMA 14 Bandung, aksi nekadnya berlanjut. Demi menyaksikan laga Persib melawan Medan Jaya, Zaini dan teman-temannya rela membolos di pelajaran terakhir.
Di satu masa, ia mendapatkan pengalaman yang sulit dilupakan. Kala itu ia bersama temannya nekad memanjat gedung yang tengah di bangun di samping Stadion Siliwangi. Saat itu terlihat ada taraje atau tangga kayu. Pikirnya itu adalah kesempatan emas.
“Naik terus nontonnya di sela-sela besi, badan nyamping sambil pegangan ke besi, ” cetusnya.
Baca Juga:35 Tahun Len, Dorong Kemandirian Teknologi Pertahanan Indonesia dari Riset hingga IndustrialisasiWabup Dorong SOR Mangunreja Berstandar FIFA, Bidik Homebase Persitas
Hari itu Persib menang 3-0. Tapi ketegangan justru dimulai di hati Zaini dan kawan-kawan nya. Ketika hendak turun dari bangunan, ternyata taraje atau tangganya hilang.
“Panik itu, akhirnya teriak bareng-bareng minta tolong. Untung ada bapak – bapak yang nolong ” tawanya.
Kecintaan Zaini tak berhenti di aksi fisik. Pada tahun 2006, saat berusia akhir 20-an, ia menuangkan gagasannya melalui tulisan opini. Gagasan itu dikirim ke salah satu media Nasional ternama dan diterbitkan. Judulnya”Membangun Ideologi Persib”.
