Tulisan tersebut mengkritik kultur suporter serta menawarkan visi besar agar sepak bola nasional meniru manajemen Liga Inggris. Misalnya mulai dari penghapusan pagar pembatas, keramahan bagi penonton anak-anak, hingga edukasi suporter.
Berkat pemikirannya yang melampaui zaman, Zaini sempat dipanggil oleh manajemen Persib kala itu. lalu ia juga sempat ikut diundang menjadi pembicara termuda dalam forum diskusi sepak bola Jawa Barat bersama para tokoh senior seperti Tri Gustoro dan Eddy Sofyan.
“Saya menulis bahwa setiap inci dari jengkal kostum Persib harus bisa menghasilkan rupiah. Dan hari ini hal itu terbukti, Persib berkembang menjadi klub yang mandiri secara finansial,” tegasnya.
Baca Juga:Renovasi Stadion Kaliki Dilanjutkan, Aktivis dan KONI Desak Standar PSSICegah Risiko Gempa, Rapid Indonesia, Semut Tangsel, dan IEA Edukasi Siswa PKBM Binar
Kini, meski telah memangku jabatan sebagai legislator, Zaini tetap menolak memanfaatkan posisinya untuk mendapatkan fasilitas cuma-cuma. Ia secara tegas memisahkan peran politik dengan gairahnya sebagai pendukung sepak bola.
“Saya tidak pernah mau memanfaatkan jabatan untuk minta VIP utama atau fasilitas gratis. Mau di tribun Timur Rp150 ribu atau VIP samping, saya selalu beli tiket sendiri. Ini bentuk dukungan nyata kita pada ekosistem industri Persib,” pungkasnya.(son)
