JABAR EKSPRES – Sosok ini bukan anggota DPRD, bukan pula kepala dinas atau stakeholder yang sengaja diundang. Tapi ia selalu datang dalam Rapat Paripurna DPRD Jawa Barat.
Namanya adalah Witri. Ia adalah seorang Juru Bahasa Isyarat. Wajahnya selalu nongol di layar ruang paripurna ataupun layar streaming. Tepatnya di sudut kanan bawah.
Ketika rapat paripurna dimulai, ia tidak ikut mengisi kursi – kursi mewah yang disediakan untuk para wakil rakyat. Ataupun duduk di deretan tamu undangan hingga perwakilan OPD yang ada di belakang dan kanan kiri paripurna.
Baca Juga:Youth Fest 2026 KNPI Tasikmalaya, Pemuda Diajak Unjuk PotensiRencana Lanjutan Pembangunan SOR Mangunreja, DPRD : Anggaran Besar, Tak Boleh Asal Jadi!
Tapi, Witri menuju lantai dua. Ia duduk di depan kain biru menghadap kamera di salah satu sudut ruangan. Bukan untuk foto KTP ataupun ijazah.
Lalu ketika pimpinan Rapat Paripurna mulai berbicara, ia pun turut beraksi. Termasuk ketika ada interupsi atau penyampaian pandangan dari Anggota Rapat. Ia menyulap kata – kata yang disampaikan dalam rapat terhormat itu ke dalam bahasa isyarat.
Langkah itu dilakukan agar pemirsa khususnya para tunarungu bisa ikut menyimak paripurna terhormat dari para wakil rakyat itu.
Witri menceritakan, ia sudah menekuni profesi sebagai Juru Bahasa Isyarat itu sejak 2021 lalu. Mulanya ia adalah seorang guru di sekolah yang mengajar anak – anak istimewa. Makanya ia sudah terbiasa menggunakan bahasa isyarat.
Ternyata di balik tugas mulia itu, ia mendapat pekerjaan sampingan. Yaitu sebagai Juru Bahasa Isyarat. Salah satunya adalah di DPRD Jawa Barat ini.
“Selain di sini, juga kalau ada konferensi pers di Polrestabes, ” katanya, Selasa (6/10).
Witri melanjutkan, sebagai Juru Bahasa Isyarat ada beberapa tantangan yang dihadapi. Di antaranya adalah perkembangan diksi – diksi baru atau diksi khusus di bidang hukum atau pemerintahan.
Baca Juga:Renovasi Stadion Kaliki Dilanjutkan, Aktivis dan KONI Desak Standar PSSICegah Risiko Gempa, Rapid Indonesia, Semut Tangsel, dan IEA Edukasi Siswa PKBM Binar
“bahasa itu kan selalu berkembang ya, pasti ada bahasa-bahasa baru tiap harinya. Apalagi istilah-istilah hukum yang baru bagi saya, ” cetusnya.
Lalu tantangan lainya adalah soal tempo. Sebagai penerjemah perlu mengikuti kata yang disampaikan pembicara yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa isyarat.
“Memang cepat, makanya kami tidak terjemahkan per kata tapi intisari dari kalimatnya, ” tuturnya. (son)
