JABAR EKSPRES – Sebanyak 35.305 jiwa di Kabupaten Bandung Barat (KBB) terdampak kekeringan selama musim kemarau. Tak hanya menyulitkan akses air bersih, kondisi ini juga mulai mengganggu produksi sayuran di kawasan Bandung Utara.
Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jabar, Hadi Rahmat Hardjasasmita, mengatakan kekeringan menjadi salah satu bencana yang perlu diantisipasi selama musim kemarau di sejumlah daerah Jawa Barat, termasuk KBB.
“Berdasarkan data yang kami terima, terdapat 9.135 kepala keluarga dengan jumlah 35.305 jiwa di Kabupaten Bandung Barat yang terdampak kekeringan,” kata Hadi dalam rilis yang diterima Jumat (9/10/2026).
Baca Juga:Bandung Barat Ubah Paradigma Pengelolaan Aset, Dari Sekadar Tercatat Menjadi Bernilai ManfaatPanas Bumi Galunggung Dipromosikan untuk Gaet Investor
Menurutnya, keterbatasan sumber air dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu, penanganan kekeringan perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di setiap wilayah terdampak.
“Dampak kekeringan tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan air masyarakat, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap sektor lainnya,” ujarnya.
Di KBB, dampak kemarau mulai dirasakan petani di kawasan Bandung Utara (KBU), khususnya Kecamatan Lembang, Cisarua, dan Parongpong yang dikenal sebagai sentra produksi hortikultura. Minimnya ketersediaan air membuat produksi sejumlah komoditas sayuran tidak maksimal.
Petani asal Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Wilarto, mengatakan keterbatasan air turut memengaruhi hasil panen dan harga sejumlah sayuran daun. Komoditas seperti romen, selada keriting, dan sawi mengalami kenaikan harga di tingkat petani.
“Karena kekurangan air, produksi sayuran tidak maksimal. Pasokan menjadi lebih sedikit sehingga harga beberapa komoditas naik,” kata Wilarto.
Saat ini, harga romen di tingkat petani berada di kisaran Rp12 ribu, sedangkan selada keriting sekitar Rp7 ribu. Harga romen bahkan sempat mencapai Rp15 ribu, sementara sawi dijual sekitar Rp3.500 hingga Rp5.000.
Meski demikian, tidak semua komoditas mengalami kenaikan harga. Tomat ceri justru mengalami penurunan hingga sekitar Rp1.500 per kilogram, dari sebelumnya yang sempat mencapai lebih dari Rp15 ribu per kilogram.
Baca Juga:AQUA DBL Dance Jadi Panggung Anak Muda Ekspresikan Wastra NusantaraKerja ke Jepang Dibuka untuk Perempuan Tasikmalaya, Kuota Hanya 10 Orang
Wilarto menilai kondisi kekeringan di wilayah Lembang tahun ini masih relatif normal dibandingkan dengan musim kemarau pada tahun-tahun sebelumnya. Hujan yang sesekali turun masih membantu memenuhi kebutuhan air bagi tanaman.
