Tentara Paham Politik, Namun Tak Berpolitik

Muhammad Ismail Mangkusubroto
Muhammad Ismail Mangkusubroto
0 Komentar

Oleh Muhammad Ismail Mangkusubroto

SETIAP awal Oktober, nama Jenderal TNI Ahmad Yani kembali disebut. Beliau dikenang sebagai salah satu korban penculikan dini hari 1 Oktober 1965 oleh gerombolan Gerakan 30 September yang di dalangi oleh PKI, kemudian jasadnya kemudian ditemukan di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Empat hari setelah tanggal itu, TNI merayakan hari jadinya, tahun ini yang ke-81. Namun, cara kita mengenang Jenderal TNI Ahmad Yani kerap berhenti pada malam tragis tersebut. Yang jarang dibicarakan adalah tiga tahun sebelumnya, 1962–1965, ketika Jenderal TNI Ahmad Yani menjabat Menteri/Panglima Angkatan Darat. Beliau mengerjakan sesuatu yang jauh lebih menentukan, yaitu mengubah tentara pejuang menjadi tentara profesional.

Dalam penelitian disertasi saya tentang kepemimpinan Jenderal TNI Ahmad Yani, dua narasumber, sejarawan Anhar Gonggong dan pemerhati sejarah militer Doni A. Sheyoputra, sampai pada kesimpulan serupa dari arah yang berbeda. Warisan terpenting bukan semata keberaniannya, melainkan cara berpikirnya tentang bagaimana sebuah tentara harus dibangun di negara yang panggung politiknya sedang panas.

TNI Angkatan Darat awal 1960-an adalah anak kandung revolusi, bangga, berani, dan kaya pengalaman tempur. Namun, seperti dicatat oleh Anhar Gonggong, TNI Angkatan Darat juga merupakan perpaduan ex-KNIL dan PETA yang belum sepenuhnya rukun, dengan organisasi yang belum dikelola secara modern. Mentalitas gerilya, yang bertumpu pada semangat juang, medan hutan, dan dukungan rakyat, pernah terbukti ampuh. Tetapi, kata Doni, perang modern tidak lagi dimenangi dengan kekuatan massa dan bambu runcing. Hingga awal 1960-an, pedoman TNI Angkatan Darat juga masih berserakan dalam diktat-diktat, belum terhimpun dalam satu doktrin yang sistematis.

Baca Juga:Luruskan Simpang Siur Korupsi MBG, Kuasa Hukum: Penyitaan Rp24,3 Miliar dan Pesawat Tak Ada Kaitan dengan SonyJamsostek Award 2026: 12 Daerah dan Perusahaan di Jabar Raih Penghargaan Perlindungan Pekerja

Yani tidak memulai dari nol melainkan meneruskan rumusan A.H. Nasution dan T.B. Simatupang. Tetapi Yani yang menuntaskan. Seminar Angkatan Darat I pada April 1965 melahirkan Doktrin Tri Ubaya Cakti sebagai doktrin resmi TNI Angkatan Darat. Yani juga merintis komando antardaerah, cikal bakal Kowilhan yang semangatnya kini hidup kembali dalam Kogabwilhan, serta mendorong riset roket dalam negeri yang oleh D.I. Panjaitan diberi kode AY-1 dan AY-2.

0 Komentar