Yang paling mencolok adalah cara Yani memilih orang. Sebagai lulusan Command Staf and General College di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat, Yani menjadikan pendidikan sebagai tulang punggung profesionalisme. Posisi-posisi kunci staf diisi perwira yang pernah bersekolah atau bertugas di luar negeri, seperti S. Parman, D.I. Panjaitan, dan M.T. Haryono. Gubernur Akademi Militer dan Komandan Seskoad dipilih dengan ukuran yang sama. Yani juga mengirim perwira ke Blok Timur. Ukurannya wawasan, bukan blok.
Namun, ujian terberat Yani bukan di medan tempur, melainkan di panggung politik Demokrasi Terpimpin. PKI sedang di puncak kekuatannya, Presiden Soekarno menggaungkan Nasakom, dan tekanan untuk “menasakomkan” tentara datang bertubi-tubi.
Yani merumuskan sikap yang hingga kini patut dikutip yaitu tentara harus berwawasan politik, tetapi tidak menjadi pemain politik partisan. Yani loyal kepada Soekarno sebagai kepala negara, tetapi menjaga jarak dari agenda PKI. Anhar Gonggong menilai pola ini sejalan dengan gagasan objective civilian control Samuel Huntington. Yani juga menolak memasukkan Nasakom ke dalam doktrin, sehingga Tri Ubaya Cakti lahir bersih dari muatan ideologi partai.
Baca Juga:Luruskan Simpang Siur Korupsi MBG, Kuasa Hukum: Penyitaan Rp24,3 Miliar dan Pesawat Tak Ada Kaitan dengan SonyJamsostek Award 2026: 12 Daerah dan Perusahaan di Jabar Raih Penghargaan Perlindungan Pekerja
Keputusan paling menentukan adalah penolakannya terhadap gagasan pembentukan Angkatan Kelima, yakni buruh dan tani yang dipersenjatai serta mendapatkan pelatihan militer. Anhar menyebutnya keputusan terpenting Yani. Argumennya sederhana, Indonesia sudah memiliki sistem pertahanan rakyat yang dapat memobilisasi warga bila perang benar-benar terjadi, sehingga tidak perlu ada kekuatan bersenjata permanen di luar struktur negara. Menurut Doni, penolakan itu pula yang membuat kekuatan operasional Gerakan 30 September sangat terbatas. Harganya sangat mahal, Yani membayarnya dengan nyawa.
Menariknya, Yani tidak memilih jalan konfrontasi dengan Soekarno dan justru merangkul. Menurut Doni, Yani menganugerahkan tanda kecakapan Seskoad kepada Presiden dan memberikan pangkat tituler kepada sejumlah tokoh sipil, seperti Hazairin dan Roeslan Abdulgani. Yani membangun kedekatan dengan elit sipil agar tentara tidak terisolasi dan Presiden tidak sepenuhnya bergeser ke orbit lain.
Yani juga tidak memisahkan tentara dari pembangunan. Transmigrasi Angkatan Darat (Transad) I Poncowati di Lampung Tengah, menjadi contohnya. Wilayah kosong di dekat Selat Sunda, jalur yang kerap dilalui kapal perang musuh semasa Konfrontasi, diisi keluarga prajurit yang membuka lahan pertanian. Pertahanan berjalan bersama pembangunan, sekaligus menjadi ruang pembauran antarsuku. Yani pun mendorong koperasi prajurit yang tumbuh dari kebutuhan prajurit sendiri, bukan dari perintah atasan.
