Tentara Paham Politik, Namun Tak Berpolitik

Muhammad Ismail Mangkusubroto
Muhammad Ismail Mangkusubroto
0 Komentar

Logikanya melingkar dan masuk akal. Keamanan memungkinkan ekonomi tumbuh. Ekonomi yang tumbuh membiayai tentara yang profesional dan industri pertahanan yang kuat. Rakyat yang sejahtera, pada gilirannya, adalah benteng pertahanan itu sendiri.

Sejarah tidak berjalan lurus. Setelah 1965, hasil Seminar Angkatan Darat yang diprakarsai Yani turut menjadi bahan perumusan kepemimpinan Orde Baru, dan Dwifungsi ABRI kemudian berkembang jauh lebih politis daripada yang dibayangkan. Kita tahu ongkosnya. Reformasi 1998 mengembalikan tentara ke barak, dan sejak itu kita terus menegosiasikan ulang batas peran militer di ranah sipil, sebuah perdebatan yang kembali menghangat beberapa tahun terakhir.

Justru di situlah Yani relevan, bahwa profesionalisme tidak lahir dari menjauhkan tentara dari politik sama sekali, tetapi juga tidak dari membiarkannya larut di dalamnya. Profesionalisme lahir dari kesadaran akan batas yaitu paham politik, tetapi tidak berpolitik; dekat dengan pemerintahan sipil, tetapi tidak menjadi alat partai; terlibat dalam pembangunan, tetapi dengan tujuan pertahanan yang jelas.

Baca Juga:Luruskan Simpang Siur Korupsi MBG, Kuasa Hukum: Penyitaan Rp24,3 Miliar dan Pesawat Tak Ada Kaitan dengan SonyJamsostek Award 2026: 12 Daerah dan Perusahaan di Jabar Raih Penghargaan Perlindungan Pekerja

Doni mengingatkan, tanpa mempelajari kembali cara berpikir Yani, kita akan terus berhadapan dengan persoalan lama seperti anggaran yang boros, industri pertahanan dalam negeri yang lemah, dan koperasi prajurit yang tak pernah berfungsi semestinya. Nilai disiplin, kejujuran, dan loyalitas yang Yani tanamkan masih ada, tetapi penerapannya memerlukan pengawasan yang lebih serius.

Peringatan setiap Oktober semestinya tidak berhenti pada karangan bunga di Lubang Buaya. Yang perlu kita warisi dari Jenderal TNI Ahmad Yani bukan hanya keberaniannya menghadapi maut, melainkan kejernihannya menarik garis, antara tentara dan partai, antara loyalitas dan ketundukan buta, antara kekuatan senjata dan tujuan bernegara. Pemikirannya, meminjam kata Doni, bukan monumen untuk dikagumi dari jauh, melainkan perangkat yang masih bisa digunakan hari ini. (*)

Muhammad Ismail Mangkusubroto

Kepala Urusan Administrasi & Umum Program Studi Teknik Geomatika, Universitas Jenderal Achmad Yani. Mahasiswa S3 Studi Pembangunan Fakultas Interdisiplin Universitas Kristen Satya Wacana.

Laman:

1 2 3
0 Komentar