“Masalah kesehatan di Indonesia masih menjadi masalah utama. Dari sisi pembiayaan, kita tidak akan bisa memenuhi kalau tidak mulai dari pencegahan dan promosi kesehatan,” jelasnya.
Terkait dosen, kesejahteraan dan profesionalisme menjadi prioritas. Analisis supply-demand di bidang kesehatan relatif lebih maju dibanding bidang lain, meski sinkronisasi data dengan Kemenkes masih menjadi tantangan.
Kontribusi, Bukan Gengsi
Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Dr. Lukman, S.T., M.Hum., mengucapkan selamat atas capaian Tel-U. FK Tel-U menjadi yang ke-15 di wilayah Jabar-Banten. Tahun ini, hanya satu izin diberikan di Jawa Barat, yakni ke Tel-U, dan satu di Banten untuk Universitas Tangerang.
Baca Juga:Upstream Youth Champs 2026 Ajak Mahasiswa ITENAS Kenali Industri Hulu MigasPublic Speaking Training: Bekal Bicara yang Lebih Bermakna
“Untuk membuka kedokteran itu tidak mudah dan tidak murah. Syarat pertama, perguruan tingginya sudah unggul. Di Jabar-Banten hanya ada 19 PTS unggul. Sudah ada enam yang membuka, tinggal 12 yang harus berjuang mencari minimal 26 dosen dan melengkapi 11 laboratorium. Kami tidak main-main,” rinci Lukman.
Secara finansial, membuka FK justru merugi. “Dosen 45, mahasiswa 50. Bagaimana mau dibilang untung? Ada batasan jumlah mahasiswa, kualitas, dan kami minta biaya tidak tinggi-tinggi. Jadi ini bukan soal gengsi, tapi kontribusi,” tegasnya.
Ia mengapresiasi Tel-U yang tidak sekadar memenuhi standar minimal. Gedung dan sarana sudah diproyeksikan hingga 10 tahun ke depan, bahkan kapasitas untuk 1.000 mahasiswa ketika suatu saat menerima 250 mahasiswa per angkatan. Lukman juga mendorong pengembangan prodi penunjang seperti keperawatan, fisioterapi, dan gizi agar ekosistem kedokteran lebih hidup.
Dari sisi akreditasi, FK Tel-U langsung mendapat status terakreditasi (minimum) dari LAM-PTKes. Targetnya, dalam empat tahun harus unggul. (bbs)
